Wabup Buka Musyawarah PDPM Sleman, Sampaikan Empat Karakteristik Pemimpin

Posted by Kahfi Media Sunday, March 24, 2019 0 comments

Gamping - Wakil Bupati Sleman, Dra. Hj. Sri Muslimatun, M.Kes. membuka musyawarah Pemuda Muhamamdiyah Kabupaten Sleman. Kegiatan berlangsung di SMP Muhammadiyah 1 Gamping, Ahad (24/3). Dalam sambutannya, Muslimatun berpesan agar Musda bisa berjalan dengan lancar. "Semoga hasil Musda mampu melahirkan kepemimpinan yang bisa mencontoh karakteristik Rasulullah, Fatonah, Amanah, Sidiq, Tabligh," pesannya.



Ketua PDPM Sleman, Anton Nugroho, SE. dalam sambutannya menyampaikan catatan perjalanan periode 2014-2018, di antaranya ada dua PCPM yang belum melakukan musyawarah cabang, yakni PCPM Ngemplak dan PCPM Cangkringan. Anton menuturkan, satu di antara capaian dari PDPM Sleman ialah aktif dalam aksi sosial di bidang kesehatan dan kebencanaan.

Sementara itu sambutan dari PWPM DIY diwakili oleh Sekretaris, Dian Koprianing Nugraha. Ia mengharapkan program yang ada bisa dilanjutkan terutama dalam aksi-aksi sosial.

"PDPM Sleman merupakan pelopor untuk menggerakan bidang sosial terutama ambulance dan mobil kemanusiaan," jelas Dian.


Ia menambahkan Pemuda Muhammadiyah (PM) harus pro-aktif. Untuk mewakafkan diri bagi kemaslahatan umat, bangsa dan masyarakat.

Sedangkan Sekretaris PDM Sleman, Ahmad Affandi berpetuah, Pemuda Muhammadiyah harus siap untuk melanjutkan estafet kepemimpinan di Muhammadiyah. "Peran PDPM Sleman cukup signifikan dalam mendukung program-program PDM Sleman," ungkap Ahmad.

Musda ke 16, PDPM Sleman berlangsung Ahad, 24 Maret 2019 di SMP Muhammadiyah 1 Gamping dengan mengambil tema Menggembirakan Dakwah Berkemajuan, Semangat Baru Sleman Sembada.

Pemuda Muhammadiyah harus siap untuk melanjutkan estafet kepemimpinan di Muhammadiyah. "Peran PDPM Sleman cukup signifikan dalam mendukung program-program PDM Sleman," ungkap Ahmad. Ia pun berpesan agar para pimpinan yang terpilih nanti tidak melupakan jenjang di bawahnya. [esp]


PDPM Sleman Gelar Turnamen Futsal Antar Cabang

Posted by Kahfi Media Saturday, March 16, 2019 0 comments
Gamping - Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Sleman menggelar turnamen futsal antar PCPM Se-Sleman. Kegiatan berlangsung Ahad (17/3) di Lapangan Futsal Kabupaten, Gamping Sleman.


Acara dibuka langsung oleh H. Abdul Kasri
Wakil Ketua PDM Sleman. Ia menyambut baik kegiatan tersebut dan mengharap untuk tetap menjunjung ukhuwah dan sportifitas.

Sementara itu, Ketua PDPM Sleman, Anton Nugroho mengungkapkan, turnamen digelar dalam rangka menyemarakkan Musda PDPM yang akan digelar 24 Maret mendatang di Gamping.

"Kegiatan ini sebagai mbinaan Pemuda sekaligus mempererat silaturahmi PCPM se Sleman dan menyambut Musyda XVI PDPM Sleman," tulis Anton lewat Whatssap.
Turnamen diikuti 18 klub dari PCPM Se-Sleman. [e]

Mengapa Majelis atau Bidang Kader Muhammadiyah Banyak yang Macet?

Posted by alfajr tv Tuesday, February 5, 2019 0 comments

Bukan rahasia lagi kalau bidang atau Majelis Kader di Muhammadiyah dan Organisasi Otonom di berbagai tingkatan banyak yang macet. Menurut pengamatan dan pengalaman yang saya alami selama ini ada beberapa sebab di antaranya.



Pertama, kurangnya buku panduan yang relevan untuk pengkaderan di Muhammadiyah.

Kedua, personel di bidang atau majelis kader tidak memiliki kemampuan atau perhatian kepada pengkaderan. Sehingga amanah yang mereka pikul sepertinya hanya sekadar jalan saja. Ini karena Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah, dengan amal usaha di bidang pendidikan. Maka yang biasanya jalan adalah Majelis Tabligh/Dakwah, Pendidikan, Ekonomi dan semacamnya.

Ketiga, basis pendataan yang minim bahkan tidak ada.

Keempat, pengkaderan yang monoton

Kelima, kurangnya biaya untuk pengkaderan.

Keenam, pengkaderan belum menjadi prioritas.

Ketujuh, banyak anak kader Muhammadiyah sendiri yang tidak diajak aktif di Muhammadiyah.

CMM #3 : Kader Muhammadiyah, Memahat Kemanfaatan Bagi Semesta

Posted by alfajr tv 0 comments

“Sesungguhnya Allah suka kepada hamba yang berkarya dan terampil (professional atau ahli). Barangsiapa bersusah-payah mencari nafkah untuk keluarganya maka dia serupa dengan seorang mujahid di jalan Allah Azza wajalla.” (Riwayat Ahmad)



Pada titik akhir kemanfaatanlah nilai kehidupan  manusia ditentukan. Kemanfaatan yang tidak hanya tersemat dalam diri. Namun meruah kepada keluarga, masyarakat, dan semesta. Ia menjadi tanda syukur atas karunia Allah yang melimpah. Ia sebagai wujud tugas kekhalifahan di bumi. Lalu lewat kemanfaatan itu pula manusia mencapai derajat khairunnas, insan terbaik.

Cukuplah berdiam di Gua Hira’ maka tidak akan ada kebencian dari orang-orang kafir. Tetaplah bersembahyang di dalam rumah, maka kaum Quraisy tak akan mengusir. Diamlah, dan lupakan kalimat, ‘Ahad, Ahad, Ahad’ maka tak akan ada lagi siksaan dari majikan, Umayah bin Khalaf. Tapi itu tak akan pernah menjadi pilihan pribadi-pribadi agung umat ini. Muhammad Saw, Abu Bakar Ash Shidiq dan Bilal bin Rabah. Setelah kebenaran menghunjam di hati, ada kerja yang harus dijalankan agar ia memberi kemanfaatan bagi semesta.

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.” (Ibrahim [14]: 24-25)

Ego seringkali menjebak orang bijak. Asyik membangun kesalehan diri lalu mengabaikan orang lain. Dengan dalih menjaga kesucian lalu enggan memperbaiki lingkungan yang ‘kotor’. Melalaikan tugas dakwah yang dipikulkan pada setiap insan. Mereka lupa sedang berada dalam perjalanan di atas lautan.

Dari Nu'man bin Basyir radhiallahu 'anhuma dari Nabi s.a.w. bersabda: "Perumpamaan orang yang berdiri tegak pada had-had Allah dan orang yang menjerumuskan diri di dalam had-had Allah adalah sebagai perumpamaan sesuatu kaum yang bersama-sama ada dalam sebuah kapal, maka yang sebagian dari mereka itu ada di bagian atas kapal, sedang sebagian lainnya ada di bagian bawah kapal. Orang-orang yang berada di bagian bawah kapal itu apabila hendak mengambil air, tentu saja melalui orang-orang yang ada di atasnya, maka mereka berkata: "Bagaimanakah andaikata kita membuat lobang saja di bagian bawah kita ini, suatu lobang itu tentunya tidak mengganggu orang yang ada di atas kita."

Maka jika sekiranya orang yang bagian atas itu membiarkan saja orang yang bagian bawah menurut kehendaknya, tentulah seluruh isi kapal akan binasa. Tetapi jikalau orang bagian atas itu mengambil tangan orang yang bagian bawah tentulah mereka selamat dan selamat pulalah seluruh penumpang kapal itu." (Riwayat Bukhari)

Setiap manusia memiliki kemampuan yang dengannya tugas dakwah bisa dilakukan. Jika mampu mencegah kemunkaran dengan tangan (kekuasaan) maka lakukanlah karena itu suatu kelebihan. Jika mampu mencegah kemunkaran dengan lisan maka ucapkanlah karena itu menjadi keharusan. Jika tidak ada kemampuan keduanya, maka pengingkaran hati menjadi pilihan akhir, maka inilah selemah-lemahnya iman. Kurang dari itu, tidak ada lagi sisa keimanan.

Untuk menebus kesalahan di masa lalu, Fudhail bin ‘Iyadh, seorang yang zuhud, mengikrarkan diri tinggal di Baitul Haram. Hari-harinya dilalui dengan taubat dan ibadah. Tak terhitung berapa banyak ia menangis sampai-sampai ada bekas aliran air mata di pipinya. Suatu saat Abdullah Ibnu Mubarak, seorang ‘ulama ahli hadis, memberinya nasihat penuh makna.

“Wahai ‘abid Al Haramain, seandainya engkau memperhatikan kami, engkau akan tahu bahwa selama ini engkau hanya bermain-main dalam beribadah.
Kalau pipi-pipi kalian basah dengan air mata,
Maka leher-leher kami basah bersimbah darah,
Kalau kuda-kuda kalian letih dalam hal yang sia-sia,
Maka kuda-kuda kami letih di medan laga,
Semerbak wanginya parfum itu untuk kalian,
Sedangkan wewangian kami pasir dan debu-debu,

Telah datang Al Quran kepada kita menjelaskan, para syuhada tidak akan pernah mati, dan itu pasti.”

Nasihat yang membuat Fudhail tersentak. Mebangunkan kesadaran yang selama ini tersamarkan. “Engkau benar Ibnul Mubarak. Demi Allah engkau benar!” ucapnya penuh ketegasan.
“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki.” (Ali 'Imran [3]: 169)

Mengukir Prestasi Terbaik
Diam itu baik, ketika tak ada pilihan kata yang lebih berguna. Tetapi saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran menjadi lebih baik agar manusia tak terjebak dalam kerugian. Bersikap hemat itu baik, ketika harta hanya digunakan untuk pemborosan. Tetapi memperbanyak shadaqah akan menjadi lebih baik, agar kelak harta tidak menjadi beban saat tanggungjawab diminta. Mengistirahatkan badan itu baik, ketimbang beraktifitas untuk kesiaan. Tetapi mencurahkan keringat untuk kerja yang bermanfaat akan lebih baik hingga keletihan berbalas pahala.
“Sesungguhnya Allah suka kepada hamba yang berkarya dan terampil (professional atau ahli). Barangsiapa bersusah-payah mencari nafkah untuk keluarganya maka dia serupa dengan seorang mujahid di jalan Allah Azza wajalla.” (Riwayat Ahmad)

Beramallah dengan amal terbaik. Memilih amal terbaik berarti menggunakan puncak dari kemampuan. Mengeliminasi segala kemalasan yang bersarang dalam raga. Menyingkirkan bermacam alasan yang selalu saja ada. Tidak mudah memang. Tapi kehidupan ini tinggal menyisakan dua peluang. Mengikuti jalan terjal penuh liku lalu menjadi pemenang. Inilah kebajikan. Atau menelusuri jalan mudah tapi penuh tipuan lalu menjadi pecundang. Itulah kesesatan.
“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebajikan dan kejahatan), Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar, Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau kepada orang miskin yang sangat fakir. Kemudian ia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang. Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan.” (Al Balad [90]: 10-18)

Pahatkanlah kemanfaatan bagi semesta. Tentu setiap diri punya kapasitas dan potensi yang berbeda. Itu tak jadi soal karena setiap insan diciptakan dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Ketika kata yang dipunya, bercerminlah kepada Abu Bakar, sang pembenar yang tak pernah gentar.

Rasulullah bersabda, “Ketika kafir Quraisy menganggap aku berdusta tentang kabar (isra’ mi’raj) maka aku bediri di Hijir (Ismail) dan ditampakkan bagiku Baitul Maqhdis. Lalu aku mengabarkan kepada mereka tentang tanda-tanda Baitul Maqhdis sambil aku memandang kepadanya.” (Riwayat Bukhari dari Jabir bin Abdullah ra.)

Meskipun demikian, masih saja banyak orang yang tidak percaya dengan perjalanan isra’ mi’raj. Jangankan kafirin, sebagian orang mukmin pun tak mempercayainya. Tampillah Abu Bakar, “Aku bersaksi bahwa ia (Nabi) benar.”
Mereka bertanya, “Apakah kamu juga membenarkan Nabi telah tiba di Syam dan kembali lagi ke Makkah, hanya dalam tempo satu malam?
“Ya. Lebih dari itupun aku tetap membenarkannya. Aku percaya dengan berita langit dan membenarkannya.”
Pantaslah bila ia digelari Ash Shidiq, orang yang membenarkan.

Ketika raga punya kemampuan tenaga. Contohlah ‘Umar, kegagahan dan sikapnya yang tegas membuat barisan Islam kian kokoh.
“Kami selalu merasa bangga sejak ‘Umar masuk Islam,” begitu pengakuan Ibnu Mas’ud. “Islamnya ‘Umar adalah suatu kemenangan, hijrahnya adalah pertolongan, dan kepemimpinannya adalah rahmat. Demi Allah, sebelum ‘Umar masuk Islam kami tak berani terang-terangan shalat di sekitar Ka’bah. Namun ketika ‘Umar masuk Islam, ia perangi mereka sehingga mereka tidak lagi mengganggu kami shalat.”

Ketika punya kemampuan harta. belajarlah dari kedermawanan Utsman bin Affan.
Ialah yang membeli sumur Raumah, satu-satunya sumber air tawar di Madinah ketika kemarau panjang melanda, hingga setiap orang yang meminumnya wajib membayar. Utsman membelinya seharga tiga puluh lima ribu dirham dan segera ia infakkan untuk umat Islam. Pada perang Tabuk ketika berhadapan dengan tentara Rum, Utsman menyumbang tiga ratus ekor unta berikut perlengkapannya, ditambah seribu dinar.
“Siapa yang menolong pasukan (muslim) yang dalam keadaan sulit, ia akan memperoleh surga.” (Riwayat Bukhari)

Ketika punya ilmu dan pemikiran yang berguna bagi perjuangan Islam. Teladanilah ‘Ali bin Abi Thalib, gerbangnya ilmu pengetahuan.
Potret kesederhanaan lekat dalam dirinya. Tapi keluasan ilmunya tak ada yang meragukan. Meski usianya lebih muda dibanding sahabat lain, ia tak sungkan memberikan ide dan pemikiran. Ialah yang mengajukan usulan penghitungan kalender Islam dimulai dengan hijrahnya Nabi. Maka dikenallah sampai sekarang penanggalan hijriyah.

Ambillah bagian dalam bangunan dakwah Islam. Pahatkan kemanfaatan bagi semesta. Bukan hanya diam atau menyendiri di ruang sunyi. Agar wajah Islam tak hanya ditemukan di masjid, surau-surau, atau di atas sajadah. Tapi bisa tercermin di semesta alam ini dengan penuh rahmah.

Wallahu a’lam bi shawwab

Catatan Menuju Musyawarah Wilayah (#CMM) Pemuda Muhammadiyah DIY di Sleman

Foto Diklat KOKAM Daerah Sleman

Posted by alfajr tv Monday, February 4, 2019 0 comments
Foto dokumentasi Pendidikan dan Latihan Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM) Daerah Sleman. Kegiatan berlangsung pada Bulan Desember tahun 2013 lalu di Desa Pendowoharjo Sleman.















CMM #2 : Membangun Pilar Ekonomi untuk Dakwah Muhammadiyah

Posted by Kahfi Media Tuesday, January 29, 2019 0 comments

(.... Pemilik kebun menjawab, “Bila kamu berkata demikian, sesunggunya aku menggunakan hasilnya untuk bersedekah sepertiganya. Aku dan keluargaku memakan daripadanya sepertiganya, dan yang sepertiganya kukembalikan ke sini (sebagai modal mengelola kebun).” Hadits Riwayat Muslim

Kalimat di atas adalah bagian dari terjemahan hadits panjang yang diceritakan Abu Hurairah ra. tentang air hujan yang turun di atas tanah berbatu lalu mengalir melalui parit ke sebuah kebun. Kebun itu ternyata milik seorang laki-laki yang selalu bersedekah dengan sepertiga hartanya. Terlihat bagaimana barokah Allah tidak pernah salah sasaran.

pengusaha muda muhammadiyah


Bersedekah dengan sepertiga jumlah harta? Kita juga akan teringat dengan kisah berfastabiqul khairat-nya Abu Bakar dan Umar saat Perang Tabuk. Umar menyerahkan separuh hartanya, sedangkan Abu Bakar ketika ditanya apa yang disisakan untuk keluarganya, ia menjawab “Aku menyisakan Allah dan Rasul-Nya untuk mereka.”

Membangun Kekuatan Ekonomi Muhammadiyah

KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah paham betul kekuatan ekonomi menjadi pilar dakwah yang tidak bisa dianggap remeh. Dengan posisinya sebagai juragan batik, Kyai Dahlan dan penggerak awal persyarikatan bisa leluasa berdakwah ke berbagai penjuru nusantara. Begitupun untuk melakukan dakwah bil hal, menyantuni orang miskin, merawat anak yatim, mendirikan sekolah dan rumah sakit mampu terlaksana dengan sokongan dana. Tidak mengharapkan bantuan dari pihak lain.

Dr. Anwar Abbas, Ketua Bidang Ekonomi Pimpinan Pusat Muhammadiyah pernah mengungkapkan, saudagar Muslim khususnya warga Muhammadiyah harus bekerja keras untuk terus berinovasi dan merebut kepercayaan pasar. Hal itu disampaikannya pada saat menutup Silaturrahim Kerja Nasional Jaringan Saudagar Muhammadiyah (Silaknas JSM) di Bandung beberapa waktu lalu.

Menurutnya ada tiga kunci sukses yang bisa diambil dari pendiri Microsoft, Bill Gates. Pertama adalah trust (kepercayaan). Kedua, innovation. Ketiga, networking (jaringan). Ketiganya menjadi rumus ampuh sehingga sampai kini Bill Gates dan Microsoft masih bisa bertahan dari serbuan para pendatang di bidang teknologi komputer dan internet.

Momentum Kebangkitan

Setiap hari miliaran hingga triliunan rupiah dibelanjakan untuk kebutuhan sehari-hari. Umat Islam sebagai mayoritas baru sebatas sebagai konsumen. Sebagian besar keuntungan justru didapatkan oleh segelintir pemodal yang tidak sejalan dengan perjuangan Islam. Kini saatnya umat Islam berdikari, bermula dari yang kecil, sedikit, untuk menjadi pemain utama perkenomian Indonesia.

Kemajuan teknologi informasi memberikan angin segar bagi siapapun yang ingin berkembang. Kini, untuk melakukan promosi kita tidak lagi terkendala keterbatasan dana untuk beriklan di media masa. Karena beragam fasiltas di internet telah memungkinan setiap orang melakukan promosi dan berkomunikasi secara masif. Ini menjadi momentum bagi pelaku ekonomi Muhammadiyah untuk menggarap pasar yang sudah terbentuk, yakni warga persyarikatan.

Muhammadiyah telah memiliki beragam amal usaha di bidang ekonomi, meskipun belum tergarap dengan baik. Tetapi bisa menjadi modal untuk membentuk jejaring usaha dan pemberdayaan ekonomi. Apalagi saat ini kesadaraan warga Muhammadiyah untuk kembali memakmurkan amal usaha Muhammadiyah terus meningkat. Ini menjadi waktu yang tepat bagi Muhammadiyah serius menggarap bidang ekonomi.

Sebagaimana diamanatkan pada Muktamar ke 47 di Makassar, bidang ekonomi menjadi pilar ke-3 dalam gerakan dakwah Muhammadiyah setelah bidang pendidikan dan kesehatan. Umat menunggu kiprah Muhammadiyah untuk tampil ke depan, menjadi pionir dalam mewujudkan bangsa yang mandiri.

Memupus Warisan Kegagalan

Nur Astri Agustini, sebagaimana dirilis laman prezi.com, menguraikan karakteristik kegiatan ekonomi Muhammadiyah.
         Kurang atau tidak memiliki militansi yang tinggi, berkiprah apa adanya, dan berbuat sendiri-sendiri atau sibuk sendiri tanpa terkait dengan kepentingan Muhammadiyah.
         Lebih tertarik pada urusan politik dan hal-hal yang bersifat mobilitas diri serta tidak peduli pada kepentingan dakwah dan menggerakkan Muhammadiyah
         Kurang solid dan konsolidasi gerakan
         Kurang/lemah komitmen, pemahaman, dan pengkhidmatan terhadap misi serta kepentingan Persyarikatan.

Tentu tidak semua kesimpulan tersebut benar, tetapi setidaknya bisa menjadi rambu-rambu agar kegiatan ekonomi Muhammadiyah tidak lagi mengalami kegagalan. Sebab catatan kegagalan di berbagai lembaga ekonomi yang coba dirintis Muhammadiyah turut memerikan rasa trauma.

Maka sudah saatnya usaha ekonomi Muhammadiyah benar-benar dikelola secara profesional. Diurusi oleh mereka yang benar-benar kompeten yang mengutamakan kepentingan Muhammadiyah. Sehingga bisa fokus dalam pengembangan usaha, tidak terbagi dengan kepentingan  pribadi.

Membangun Kemandirian Finansial Kader

Tentu tidak pula bisa dilalaikan, para kader persyarikatan tentu juga harus memperhatikan kemandirian secara finansial. Karena mereka memiliki tanggung jawab terhadap keluarga. Sudah sewajarnya jika tema tentang kemandirian finansial dimunculkan dan mendapat perhatian dalam program dan kegiatan Muhammadiyah.

Dengan kondisi keuangan yang cukup, para kader akan lebih fokus dalam dakwah serta bisa melakukan dakwah bil hal dengan harta yang dimiliki. Kemandirian ini bisa dibangun dengan membuat jejaring usaha yang saling menguntungkan. Dengan memetakan potensi masing-masing kader kemudian dikelola sebagai sebuah kerjasama yang saling menguntungkan.

Di era teknologi informasi, mungkin kita tetap sulit mengalahkan para pemodal besar, tetapi sebagai komunitas dan loyalitas, kita bisa mengurangi ketergantungan terhadap para pemodal besar. Dengan bertumpu kepada potensi antar kader. Ada yang usaha perdagangan bahan pokok, ada yang jasa potong rambut, ada yang membuka peternakan, percetakan, jasa rental, jasa arsitektur, dan sebagainya. Bila saling disinergikan niscaya menjadi potensi luar biasa.

Sekarang tergantung kita, apakah ekonomi dan wirausaha akan menjadi satu di antara fokus gerakan, atau sekedar angin lalu yang dilupakan. [e]

Baca tulisan sebelumnya : Muhammadiyah, Matahari untuk Kaum Miskin

Catatan Menuju Musywil PWPM : Muhammadiyah, Matahari untuk Kaum Miskin

Posted by Kahfi Media Saturday, January 26, 2019 0 comments

(
“Djadi seolah-olah dasarnja pertolongan daripada Moehammadijah b/g PKO itoe soeatoe soember (mata air) pertolongan jang djernih lagi bersih, terletak di seboeah tempat jang bisa didatangi oleh segala orang tidak memandang bangsa dan Agama.” (Penggalan dari asas Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO) yang didirikan pada 1923)



Said Tuhuleley, seorang kader Muhammadiyah yang lama berkecimpung di bidang pemberdayaan masyarakat menguraikan pandangannya tentang pasang surut fokus Muhammadiyah dalam menyantuni kaum miskin. Sebagaimana tercatat dalam sejarah, Kyai Dahlan ingin agar ajaran Islam yang terkandung dalam Surat Al Maun benar-benar diamalkan secara nyata oleh para muridnya.

“1. Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? 2. Maka itulah orang yang menghardik anak yatim, 3. dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.”

Saat seorang murid mengungkapkan kenapa pelajaran tentang surat Al Maun diulang-ulang padahal mereka sudah paham, Kyai Dahlan melontarkan satu pertanyaan yang menghentak kesadaran. “Sudahkah kalian amalkan?” Kemudian ajaran Al Maun pun diwujudkan dalam amal nyata secara bersama-sama.

Sejak awal berdiri, Muhammadiyah dekat dengan kaum miskin, anak yatim dan golongan kurang beruntung lainnya. Lahirnya Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO) pada 1923 semakin menegaskan kiprah Muhammadiyah dalam membantu kaum miskin. PKO berawal dari inisiatif HM. Sudjak untuk menyediakan klinik kesehatan bagi para dhuafa. Maka pada 15 Februari 1923 dibuatlah klinik di Jagang Notoprajan. Kemudian terus berkembang dan dipindahkan ke  Jalan Ngabean No.12 B Yogyakarta (sekarang Jalan K.H. Ahmad Dahlan).

Namun menurut Said Tuhuleley, terjadi pergeseran fokus dalam gerakan Muhammadiyah, apalagi setelah PKO diterjemahkan ulang menjadi PKU (Pembina Kesejahteraan Umat) pada era 1980-an. Perubahan ini seolah ikut mengikis ruh kepedulian kepada kaum miskin. Sehingga gerak langkah Muhammadiyah seolah meninggalkan akarnya sebagai pemberdaya kaum miskin, berbelok arah menjadi pengelola amal usaha sebagai industri jasa yang lebih mengejar profit.

Untunglah pada Muktamar ke 44 di Jakarta, tumbuh kesadaran untuk mengembalikan Muhammadiyah ke jati diri gerakan sebagaimana dirintis Kyai Dahlan. Dengan dimotori Dr. Moeslim Abdurrahman dan kawan-kawan, Muhammadiyah memberikan perhatian khusus kepada buruh, tani dan nelayan. Gerakan ini hingga kini terus digulirkan melalui Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM).

Menilik sejarah tersebut, sudah sepatutnya pimpinan, kader dan warga persyarikatan Muhammadiyah untuk melihat kembali apakah dalam program, langkah dan gerakan yang dijalankan saat ini selaras dengan cita-cita luhur Kyai Dahlan: Membantu kaum miskin!

Kita bisa belajar dari kisah Drijowongso, sekretaris Bagian PKO Muhammadiyah yang mendampingi Kyai Suja’. Sebelum aktif di Muhammadiyah, Drijowongso yang berasal dari Sidoarjo ini dikenal sebagai buruh tebu. Pergaulan dan lingkungan membuatnya lebih cenderung berpikiran sekuler. Merasa tertindas oleh kekuasaan kolonial ia terlibat dalam aksi protes, dan kemudian ditangkap Belanda. Drijowongso harus mendekam di penjara selama satu setengah tahun di Magelang.

Ia mendengar kiprah Muhammadiyah. Ia pun mengirimkan surat kepada Muhammadiyah agar bersedia merawat anak dan istrinya. Muhammadiyah menyambut permintaan itu, melalui Siti Moendjijah, adik kandung Haji Fachrodin, istri dan anak Drijowongso diajak ke Yogyakarta. Selepas dari penjara, Drijowongso langsung menuju ke Yogyakarta dan ia pun kaget saat menemui istri dan anaknya. Sebab keduanya berpenampilan rapi dan terdidik. Muhammadiyah telah menunaikan permohonannya dengan baik.

Begitulah, dan kita ingin agar Muhammadiyah tetap dekat dengan kaum miskin. Menjadikan pemberdayaan masyarakat sebagai ruh dalam setiap aspek amal usaha yang dilakukan. Terus merawat nilai-nilai kemanusiaan tanpa mengabaikan ajaran Islam. Semoga Muhammadiyah mampu menjadi matahari untuk kaum miskin. [e] (Catatan menuju musyawarah wilayah PWPM DIY Bag. 1)

Terbanyak Dibaca

Sosok

Risalah

Catatan

Kabar

Halaman Dilihat