Islam di Amerika: Sebuah Keajaiban Bernama 9/11
Tuesday, January 22, 2013
0
comments
Oleh: Moeflich
Hasbullah
(Pikiran
Rakyat, 6 Maret 2008)
“Idza
ja-a nashrullahi wal fathu,
wara
aytannas sayad khuluna fi dinillahi afwaja..”
(An-Nashr:
1-2)
(Ketika
datang pertolongan Allah dan kemenangan,
dan
kamu akan melihat manusia masuk ke dalam agama Allah
dengan
berbondong-bondong…”.
Sejumlah
data yang dikomposisikan oleh Demented Vision (2007), dari sebuah observasi di
Amerika Serikat tentang perkembangan jumlah pemeluk agama-agama dunia menarik
untuk dicermati. Dari data observasi itu, terdapat angka-angka yang menunjukkan
perbandingan pertumbuhan penganut Islam dan Kristen di dunia. Lembaga itu
mencatat, pada tahun 1900, jumlah pemeluk Kristen adalah 26,9% dari total
penduduk dunia, sementara pemeluk Islam hanya 12,4%. 80 tahun kemudian (1980),
angka itu berubah. Penganut Kristen bertambah 3,1% menjadi 30%, dan Muslim
bertambah 4,1% menjadi 16,5% dari seluruh penduduk bumi.
Pada
pergantian milenium kedua, yaitu 20 tahun kemudian (2000), jumlah itu berubah
lagi tapi terjadi perbedaan yang menarik. Kristen menurun 0,1% menjadi 29,9%
dan Muslim naik lagi menjadi 19,2%. Pada tahun 2025, angka itu diproyeksikan
akan berubah menjadi: penduduk Kristen 25% (turun 4,9%) dan Muslim akan menjadi
30% (naik pesat 10,8%) mengejar jumlah penganut Kristen. Bila diambil
rata-rata, Islam bertambah pemeluknya 2,9% pertahun. Pertumbuhan ini lebih
cepat dibandingkan dengan pertumbuhan jumlah penduduk bumi sendiri yang hanya
2,3% pertahun. 17 tahun lagi dari sekarang, bila pertumbuhan Islam itu konstan,
dari angka kelahiran dan yang masuk Islam di berbagai negara, berarti prediksi
itu benar, Islam akan menjadi agama nomor satu terbanyak pemeluknya di dunia,
menggeser Kristen menjadi kedua.
World
Almanac and Book of Fact, #1 New York Times Bestseller, mencatat jumlah total
umat Islam sedunia tahun 2004 adalah 1,2 milyar lebih (1.226.403.000), tahun
2007 sudah mencapai 1,5 milyar lebih (1.522.813.123 jiwa). Ini berarti, dalam 3
tahun, kaum Muslim mengalami penambahan jumlah sekitar 300 juta orang (sama
dengan jumlah umat Islam yang ada di kawasan Asia Tenggara).
Fenomena
di Amerika sendiri sangat menarik. Sangat tidak masuk di akal pemerintah George
Bush dan tokoh-tokoh Amerika, masyarakat Amerika berbondong-bondong masuk Islam
justru setelah peristiwa pemboman World Trade Center pada 11 September 2001
yang dikenal dengan 9/11 yang sangat memburukkan citra Islam itu. Pasca 9/11
adalah era pertumbuhan Islam paling cepat yang tidak pernah ada presedennya
dalam sejarah Amerika. 8 juta orang Muslim yang kini ada di Amerika dan 20.000
orang Amerika masuk Islam setiap tahun setelah pemboman itu. Pernyataan syahadat
masuk Islam terus terjadi di kota-kota Amerika seperti New York, Wahington, Los
Angeles, California, Chicago, Dallas, Texas dan yang lainnya.
Atas
fakta inilah, ditambah gelombang masuk Islam di luar Amerika, seperti di Eropa
dan beberapa negara lain, beberapa tokoh Amerika menyatakan kesimpulannya. The
Population Reference Bureau USA Today sendiri menyimpulkan: “Moslems are the
world fastest growing group.” Hillary Rodham Cinton, istri mantan Presiden
Clinton seperti dikutip oleh Los Angeles Times mengatakan, “Islam is the
fastest growing religion in America.” Kemudian, Geraldine Baum mengungkapkan:
“Islam is the fastest growing religion in the country” (Newsday Religion
Writer, Newsday). “Islam is the fastest growing religion in the United States,”
kata Ari L. Goldman seperti dikutip New York Times.
Atas
daya magnit Islam inilah, pada 19 April 2007, digelar sebuah konferensi di
Middlebury College, Middlebury Vt. untuk mengantisipasi masa depan Islam di
Amerika dengan tajuk “Is Islam a Trully American religion?” (Apakah Islam
adalah Agama Amerika yang sebenarnya?) menampilkan Prof. Jane Smith yang banyak
menulis buku-buku tentang Islam di Amerika. Konferensi itu sendiri merupakan
seri kuliah tentang Immigrant and Religion in America. Dari konferensi itu,
jelas tergambar bagaimana keterbukaan masyarakat Amerika menerima sebuah
gelombang baru yang tak terelakkan yaitu Islam yang akan menjadi identitas
dominan di negara super power itu.
Anomali
9/11
Peristiwa
9/11 menyimpan misteri yang tidak terduga. Pemboman itu dikutuk dunia, terlebih
Amerika, sebagai biadab dan barbar buah tangan para “teroris Islam.” Setelah
peristiwa itu, kaum Muslimin di Amerika terutama imigran asal Timur Tengah
merasakan getahnya mengalami kondisi psiokologis yang sangat berat: dicurigai,
diteror, diserang, dilecehkan dan diasosiasikan dengan teroris. Hal yang sama
dialami oleh kaum Muslim di Inggris, Perancis, Jerman dan negara-negara Eropa
lainnya.
Pemerintah
George Walker Bush segera mengetatkan aturan imigrasi dan mengawasi kaum
imigran Muslim secara berlebihan. Siaran televisi Fox News Channel, dalam acara
mingguan “In Focus” menggelar diskusi dengan mengundang enam orang nara sumber,
bertemakan ”Stop All Muslim Immigration to Protect America and Economy.” Acara
ini menggambarkan kekhawatiran Amerika tidak hanya dalam masalah terorisme
tetapi juga ekonomi dimana pengaruh para pengusaha Arab dan Timur Tengah mulai
dominan dan mengendalikan ekonomi Amerika.
Sangat
banyak masyarakat Amerika tak percaya peristiwa 9/11 dilakukan oleh orang-orang
Muslim. Fakta-fakta ilmiah telah mementahkan bahwa keruntuhan gedung kembar itu
benar-benar oleh pesawat, melainkan oleh rencana peruntuhan gedung oleh bom
yang sangat rapih oleh Yahudi Amerika. Yang sangat ironis dan mudah terbaca,
gedung kembar tinggi itu ditabrak pesawat di atas, tapi runtuhnya ambruk rapih
ke bawah (bukan terguling) yang menunjukkan bom sudah dipasangi dengan rapih di
tiap lantai. Selain itu, kerangka baja gedung WTC yang sangat tinggi dan kokoh
tidak akan membuatnya runtuh ditabrak pesawat, kecuali pesawat yang ukurannya
minimal 5 kali lipat gedung itu.
Tapi,
rupanya Islam berkembang dengan caranya sendiri. Islam mematahkan “logika akal
sehat” manusia modern. Bagaimana mungkin sekelompok orang nekat berbuat biadab
membunuh banyak orang tidak berdosa dengan mengatasnamakan agama, tetapi tidak
lama setelah peristiwa itu, justru ribuan orang berbondong-bondong menyatakan
diri masuk agama tersebut dan menemukan kedamaian didalamnya? 9/11 telah
berfungsi menjadi ikon yang memproduksi arus sejarah yang tidak logis dan
mengherankan. Selain 20.000 orang Amerika masuk Islam setiap tahun setelah
peristiwa itu, ribuan yang lain dari negara-negara non Amerika (Eropa, Cina,
Korea, Jepang dst) juga mengambil keputusan yang sama masuk Islam. Bagaimana
arus ini bisa dijelaskan? Sejauh saya ketahui, jawabannya “tidak ada” dalam
teori-teori gerakan sosial karena fenomena ini sebuah anomali. Maka, gejala ini
hanya bisa dijelaskan oleh “teori tangan Tuhan.”
Tangan
Tuhan dalam bentuk blessing in disguise (hikmah tak terduga) adalah nyata
dibalik peristiwa 9/11 dan ini diakui oleh masyarakat Islam Amerika. Karena
peristiwa 9/11 yang sangat mengerikan itu dituduhkan kepada Islam, berbagai
lapisan masyarakat Amerika justru kemudian terundang kuriositasnya untuk
mengetahui Islam lebih jauh. Sebagian karena murni semata-mata ingin mengetahui
saja, sebagian lagi mempelajari dengan sebuah pertanyaan dibenaknya: “bagaimana
mungkin dalam zaman modern dan beradab ini agama mengajarkan teror, kekerasan
dan suicide bombing dengan ratusan korban tidak berdosa?” Tapi keduanya
berbasis pada hal yang sama: ignorance of Islam (ketidaktahuan sama sekali
tentang Islam). Sebelumnya, sumber pengetahuan masyarakat Barat (Amerika dan
Eropa) tentang Islam hanya satu yaitu media yang menggambarkan Islam tidak lain
kecuali stereotip-stereotip buruk seperti teroris, uncivilized, kejam terhadap
perempuan dan sejenisnya.
Seperti
disaksikan Eric, seorang Muslim pemain cricket warga Texas, setelah peristiwa
9/11, masyarakat Amerika menjadi ingin tahu Islam, mereka kemudian ramai-ramai
membeli dan membaca Al-Qur’an setiap hari, membaca biografi Muhammad dan buku-buku
Islam untuk mengetahui isinya. Hasilnya, dari membaca sumbernya langsung,
mereka menjadi tahu ajaran Islam yang sesungguhnya. Ketimbang bertambahnya
kebencian, yang terjadi malah sebaliknya. Menemukan keagungan serta keindahan
ajaran agama yang satu ini. Keagungan ajaran Islam ini bertemu pada saatnya
yang tepat dengan kegersangan, kegelisahan dan kekeringan spritual masyarakat
Amerika yang sekuler selama ini. Karena itu, Islam justru menjadi jawaban bagi
proses pencarian spiritual mereka selama ini. Islam menjadi melting point atas
kebekuan spiritual yang selama ini dialami masyarakat Amerika. Inilah pemicu
terjadinya Islamisasi Amerika yang mengherankan para pengamat sosial dan
politik. Inilah tangan Tuhan dibalik peristiwa /9/11.
Motivasi
Menjadi Muslim
Dari
banyak wawancara yang dilakukan televisi Amerika, Eropa maupun Timur Tengah
terhadap mereka yang masuk Islam atau video-video blog yang banyak menjelaskan
motivasi para new converters ini masuk Islam, menggambarkan konfigurasi latar
belakang yang beragam.
Pertama,
karena kehidupan mereka yang sebelumnya sekuler, tidak terarah, tidak punya
tujuan, hidup hanya money, music and fun. Pola hidup itu menciptakan
kegersangan dan kegelisahan jiwa. Mereka merasakan kekacauan hidup, tidak
seperti pada orang-orang Muslim yang mereka kenal. Dalam hingar bingar dunia
modern dan fasilitas materi yang melimpah banyak dari mereka yang merasakan
kehampaan dan ketidakbahagiaan. Ketika menemukan Islam dari membaca Al-Qur’an,
dari buku atau kehidupan teman Muslimnya yang sehari-harinya taat beragama,
dengan mudah saja mereka masuk Islam.
Kedua,
merasakan ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan yang tidak pernah dirasakannya
dalam agama sebelumnya yaitu Kristen. Dalam Islam mereka merasakan hubungan
dengan Tuhan itu langsung dan dekat. Beberapa orang Kristen taat bahkan mereka
sebagai church priest mengaku seperti itu ketika diwawancarai televisi. Allison
dari North Caroline dan Barbara Cartabuka, seorang diantara 6,5 juta orang
Amerika yang masuk Islam pasca 9/11, seperti diberitakan oleh Veronica De La
Cruz dalam CNN Headline News, Allison mengaku “Islam is much more about peace.”
Sedangkan Barbara tidak pernah merasakan kedamaian selama menganut Katolik Roma
seperti kini dirasakannya setelah menjadi Muslim.
Demikian
juga yang dirasakan oleh Mr. Idris Taufik, mantan pendeta Katolik di London,
ketika diwawancara televisi Al-Jazira. Mantan pendeta ini melihat dan merasakan
ketenangan batin dalam Islam yang tidak pernah dirasakan sebelumnya ketika ia
menjadi mendeta di London. Ia masuk Islam setelah melancong ke Mesir. Ia kaget
melihat orang-orang Islam tidak seperti yang diberitakan di televisi-televisi
Barat. Ia mengaku, sebelumnya hanya mengetahui Islam dari media. Ia sering
meneteskan air mata ketika menyaksikan kaum Muslim shalat dan kini ia merasakan
kebahagiaan setelah menjadi Muslim di London.
Ketiga,
menemukan kebenaran yang dicarinya. Beberapa konverter mengakui konsep-konsep
ajaran Islam lebih rasional atau lebih masuk akal seperti tentang keesaan
Tuhan, kemurnian kitab suci, kebangkitan (resurrection) dan penghapusan dosa
(salvation) ketimbang dalam Kristen. Banyak dari masyarakat Amerika memandang
Kristen sebagai agama yang konservatif dalam doktrin-doktrinnya. Eric seorang
pemain Cricket di Texas, kota kelahiran George Bush, berkesimpulan seperti itu
dan memilih Islam. Sebagai pemain cricket Muslim, ia sering shalat di pinggir
lapang. Di Kristen, katanya, sembahyang harus selalu ke Gereja.
Seorang
konverter lain memberikan kesaksiannya yang bangga menjadi Muslim. Ia
menjelaskan telah berpuluh tahun menganut Katolik Roma dan Kristen Evangelik.
Dia mengaku menemukan kelemahan-kelemahan doktrin Kristen setelah menyaksikan
debat terbuka tentang “Is Jesus God?” (Apakah Yesus itu Tuhan?) antara Ahmad
Deedat, seorang tokoh Islam dari Afrika Selatan dan seorang doktor teologi
Kristen. Argumen-argumen Dedaat dalam diskusi menurutnya jauh lebih jelas, kuat
dan memuaskan ketimbang teolog Kristen itu. Deedat, menurutnya, menumbangkan
“every single point of argument” lawan debatnya. Menariknya, misi awalnya ia
menonton debat agama itu justru untuk mengetahui Islam karena ia bertekad akan
menyebarkan injil ke masyarakat-masyarakat Muslim. Yang terjadi sebaliknya, ia
malah menemukan keunggulan doktrin Islam dalam berbagai aspeknya dibandingkan
Kristen. Angela Collin, seorang artis California yang terkenal karena filmnya
Leguna Beach dan kini menjadi Director of Islamic School, ketika diwawancarai
oleh televisi NBC News megapa ia masuk Islam, ia mengungkapkan: “I was seeking
the truth and I’ve found it in Islam. Now I have this belief and I love this
belief,” katanya bangga.
Keempat,
banyak kaum perempuan Amerika Muslim berkesimpulan ternyata Islam sangat
melindungi dan menghargai perempuan. Dengan kata lain, perempuan dalam Islam
dimuliakan dan posisinya sangat dihormati. Walaupun mereka tidak setuju dengan
poligami, mereka melihat posisi perempuan sangat dihormati dalam Islam daripada
dalam peradaban Barat modern. Seorang convert perempuan Amerika bernama Tania,
merasa hidupnya kacau dan tidak terarah jutsru dalam kebebasannya di Amerika.
Ia bisa melakukan apa saja yang dia mau untuk kesenangan seperti seks, drug,
free-party dan having fun lainnya, tapi ia rasakan malah merugikan dan
merendahkan perempuan. Setelah mempelajari Islam, awalnya merasa minder.
Setelah tahu bagaimana Islam memperlakukan perempuan, ia malah berkata “women
in Islam is so honored. This is a nice religion not for people like me!” (perempuan dalam Islam begitu dihargai. Ini
adalah agama yang indah dan mulia bukan untuk orang seperti saya!) katanya. Dia
masuk Islam setelah mempelajarinya beberapa bulan dari teman Muslimnya.
Perkembangan
Islam di dunia Barat sesungguhnya lebih prospektif karena mereka terbiasa
berfikir terbuka. Dalam keluarga Amerika, pemilihan agama dilakukan secara
bebas dan independen. Banyak orang tua mendukung anaknya menjadi Muslim selama
itu adalah pilihan bebasnya dan independen. Mereka mudah saja masuk Islam
ketika menemukan kebenaran disitu. Angela Collin menjadi Muslim dengan dukungan
kedua orang tua. Ketika diwawancarai televisi NBC, orang tuanya justru merasa
bangga karena Angela adalah seorang “independent person.” Nancy seorang remaja
15 tahun, masuk Islam setelah bergaul dekat temannya keluarga Pakistan dan
keluarganya tidak mempermasalahkan walaupun telah lama hidup dalam tradisi
Kristen.
Dampak
Hubungan Islam – Barat
Perkembangan
ini tentu akan berpengaruh signifikan terhadap hubungan Islam-Barat (Kristen)
yang sudah mengalami ketegangan historis berabad-abad. Dengan pesatnya
perkembangan umat Muslim di Amerika, Eropa dan negara-negara maju lainnya, akan
berpengaruh signifikan terhadap beberapa hal. Pertama, masyarakat Barat akan
lebih dekat dan lebih kenal dengan Islam melalui umat Islam yang ada di Barat
sendiri. Mereka akan menjembatani kesalahafahaman yang selalu terjadi terhadap
Islam dan kaum Muslimin. Ketidaksukaan masyarakat Barat terhadap Islam lebih
karena the ignorance of Islam dan ini akan semakin berkurang. Umat Islam di
Barat akan menjadi komunikator yang efektif dan duta-duta yang handal untuk
menjelaskan dan memperlihatkan wajah Islam yang sesungguhnya di sana.
Melalui
mereka, nasib umat Islam diluar Barat akan disuarakan dan penderitaan demi
penderitaan negara-negara Muslim akibat dominasi Barat yang kebijakannya sering
yang tidak adil akan berkurang. Kedua, akibat dari ajaran Islam yang semakin
tersosialisasi di Barat dan suara politik kaum Muslimin semakin kuat, jembatan
untuk terciptanya saling pemahaman dan pengertian akan semakin kondusif dan
menguat. Islam dan Barat mudah-mudahan akan masuk ke dalam sebuah equilibrium
sejarah baru yang lebih adil, lebih fair dan lebih demokratis: “Ketika datang
pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu akan melihat manusia masuk ke dalam
agama Allah dengan berbondong-bondong!”. Wallahu a’lam!!
Penulis,
Dosen UIN SGD Bandung, alumni Southeast Asian Studies, The Australian National
University, Canberra.
Sumber: moeflich.wordpress.com



0 comments:
Post a Comment