Teroris Harus Islam!!
Tuesday, January 22, 2013
0
comments
Oleh: Moeflich
Hasbullah
Sebutan
teroris harus hanya terkait dengan Islam yaitu gerakan Islam, pemberontak Islam
atau Islam minoritas yang tertindas dan ingin merdeka di sebuah negara. Itu
benar!! Tapi gerakan serupa yang non-Islam tidak boleh kita sebut kelompok
teroris. Osama bin Laden dan Al-Qaeda yang konon meruntuhkan dua gedung World
Trade Center di New York 11 September 2001 dengan tabrakan pesawatnya yang
menelan korban tewas 200 ribu lebih warga Amerika dan bangsa lain jelas teroris
Islam, tapi Presiden George W. Bush yang membalasnya dengan menjatuhkan
pemerintahan Irak dan membunuh ribuan korban warga sipil Irak ya jelas bukan
teroris. Itu pembalasan yang sah.
Bahkan
kita tahu, jaringan Al-Qaidah (bila benar-benar ada) tidak terkait negara.
Belakangan lembaga inteligent CIA mengakui Al-Qaeda hanya ciptaan Amerika tapi
Amerika menjatuhkan pemerintahan Irak dan menghancurkan Baghdad. Keganasan
tentara Amerika dan sekutunya di berbagai negara yang telah menewaskan puluhan
ribu korban warga sipil tak berdosa tidak bisa disebut teroris karena itu
negara, terlebih negara adidaya.
Pemerintah
Zionis Israel yang setiap hari membunuh rakyat sipil tak berdosa, wanita dan
anak-anak Palestina, sama sekali bukan teroris. Amerika dan Israel tidak
menyebut diri teroris dan dunia pun tidak menyebutnya begitu. Presiden Serbia,
Slobodan Milosevic, yang melakukan kejahatan perang pada etnis Muslim Bosnia
dan melakukan ethnic cleaning (pembersihan etnis) dengan metode mass rape
(perkosaan massal) tak disandingkan dengan istilah teroris.
Menurut
Jürgen Todenhöfer, seperti ditulis Sulthan Haidar Shamian, dalam bukunya
Feinbild Islam: Zehn Thesen gegen Hass (Potret Buruk Islam: Sepuluh Tesis Anti
Kebencian), terbit tahun 2011, Barat jauh lebih brutal daripada dunia Muslim.
Jutaan warga sipil Arab tewas sejak kolonialisme dimulai. Todenhöfer adalah
seorang politikus dari partai CDU (Kristen-Demokrat) yang pernah 18 tahun duduk
di parlemen Jerman. Ia telah melakukan perjalanan bertahun-tahun di Irak, Iran,
Libya, Sudan sampai Afghanistan. Menurut Todenhöfer, atas nama kolonialisasi,
Prancis pernah membunuh lebih dari dua juta penduduk sipil di Aljazair, dalam
kurun waktu 130 tahun. Atas nama kolonialisasi, Italia pernah menggunakan
phosphor dan gas mustard untuk menghabisi penduduk sipil di Libya. Atas nama
kolonialisasi, Spanyol juga pernah menggunakan senjata kimia di Marokko.
Tidak
berbeda di era dengan pasca perang dunia kedua. Dalam invansi perang Teluk
kedua, semenjak tahun 2003, UNICEF menyebutkan, 1,5 juta penduduk sipil Irak
terbunuh, sepertiganya anak-anak. Tidak sedikit dari korban terkontaminasi
amunisi uranium. Di Baghdad, hampir setiap rumah kehilangan satu anggota
keluarganya.
Sebaliknya,
di dua abad terakhir, tidak satu pun negara Muslim menyerang, mengintervensi,
mengkolonialisasi Barat. Perbandingan jumlah korban mati (dunia Islam: dunia
Barat) adalah 10:1. Problema besar dunia di dua abad belakangan ini, kata
Todenhöfer, bukan kebrutalan Islam, tapi kebrutalan beberapa negara-negara
Barat. Tapi walaupun begitu, harus dicatat, tetap yang teroris itu adalah
Islam. Walaupun catatan pembunuhan rakyat sipilnya sangat banyak, Barat bukan
teroris dan tak bisa disebut teroris.
Haidar
Shamian pun menyebutkan data data resmi Badan Kepolisian Eropa, Europol, yang
ditemukan Jürgen Todenhöfer. Europol menyebutkan dari 249 aksi teror di tahun
2010, hanya tiga yang pelakunya berlatar belakang Islam. Bukan 200, bukan 100 –
tapi tiga! Data di tahun-tahun sebelumnya juga tidak kalah mengejutkan: Dari
294 aksi terror di tahun 2009, hanya satu yang berlatar belakang Islam. Hanya
satu dari 515 aksi teror di tahun 2008. Hanya empat dari 583 di tahun 2007.
Bila
Barat, kata Todenhöfer, mengklaim 3500 korban terorisme jatuh atas nama
“teror-Islam” semenjak pertengahan 1990-an (termasuk korban WTC pada 11/9),
tapi mengapa ratusan-ribu warga sipil yang terbunuh dalam intervensi di Irak
tidak pernah diangkat? Todenhöfer kemudian bertanya: Mengapa elite Barat tidak
pernah sekalipun menimbang untuk membawa George W. Bush dan Tony Blair ke
hadapan mahkamah internasional, atas serangan sepihaknya ke Irak? Sekali lagi,
jawabannya jelas, karena teroris itu Muslim dan harus hanya terkait dengan
Islam.
Alumni-alumni
pesantren dan anak-anak muda Islam yang melakukan perlawanan pada ketidakadilan
politik global dengan menyerang simbol-simbol dominasi kekuasan Barat-Amerika
harus disebut teroris. Abu Bakar Ba’asyir walaupun di pengadilan dinyatakan
tidak terbukti bersalah dalam peristiwa-peristiwa terorisme, adalah seorang
teroris. Densus 88 harus dibentuk karena mendapat bantuan dana besar untuk
menyergap para teroris Islam. Bila berhasil, Indonesia dapat pujian
internasional. Aksi-aksi teroris yang selalu saja muncul, yang menunjukkan
kegagalan Densus 88 mengantisipasinya, tidak apa-apa untuk terus memelihara
keterkaitan Islam dengan terorisme.
Gerakan-gerakan
Muslim minoritas yang melakukan perlawanan pada pemerintahnya yang menindas dan
ingin memisahkan diri harus disebut teroris. Abu Sayaf pimpinan Muslim Moro di
Filipina adalah teroris karenanya terorisme di Indonesia pun sering dikaitkan
kepadanya. Demikian pula Muslim Patani di Thailand Selatan yang ingin merdeka
dan lepas dari Thailand. Tapi, kelompok separatis Papua yang ingin lepas dari
Indonesia dan sudah membunuh ribuan sipil dan puluhan polisi cukup sebut OPM
(Organisasi Papua Merdeka) saja dan sekarang menurut pengakuan Menteri Luar
Negeri Republik Federal Papua Barat Jacob Rumbiak, sudah 111 negara memberikan
dukungannya untuk lepas dari Indonesia. Gerakan separatis di Maluku cukup sebut
RMS (Republik Maluku Selatan) saja. Timor Timur yang berontak dan memisahkan
diri dari pangkuan NKRI sebut “perlawanan Timor Timur” saja atau Fretilin saja.
Non-Islam
tidak boleh dihubungkan dengan kata-kata teroris walaupun tindakannya sama,
bahkan lebih. Sebutan teroris buat mereka tidak pas. Maka, pembantaian massal
Muslim Rohingnya di Burma, tidak disebut kelompok teroris tapi cukup “penganut
Budha” saja atau “pemerintah Burma” saja. Tapi kalau dua orang remaja yang baru
berumur 19 dan 16 tahun menyerang pos polisi di Solo, langsung sebut teroris
saja apalagi dia alumni pesantren. Umat Islam di seluruh dunia yang memprotes
keras film menghina Nabi, Innocence of Muslims, harus dianggap para teroris
karena telah membuat suasana mencekam, merusak dan membunuh orang tak terkait,
tapi Sam Bacile, pembuat film itu sendiri yang menyebabkan protes dan telah
menteror serta melukai perasaan umat Islam seluruh dunia ya bukan teroris. Bacile
hanya melukai perasaan, sedangkan demo umat Islam telah menimbulkan korban luka
fisik. Semua orang tahu, luka perasaan lebih dalam dan lebih berbekas ketimbang
hanya luka fisik.
Pembentukan
citra ini telah berhasil membentuk stigma dan opini reflek bawah sadar,
termasuk di kalangan umat Islam sendiri, bahwa setiap bentuk perlawanan nyata
yang dilakukan oleh orang-orang Islam, tanpa melihat konteks persoalan sosial
politik, psikologis dan budaya harus disebut teroris.[]
Sumber: moeflich.wordpress.com



0 comments:
Post a Comment