Menghormati Kesepakatan dan Tidak Sewenang-wenang
Wednesday, February 27, 2013
0
comments
Meskipun Muhammad Saw telah menjadi pemimpin ummat, namum
beliau tidak berbuat sekehendak hati saat bertransaksi (bermuamalah). Ali
menceritakan, Nabi meminjam beberapadinardari seorang tabib Yahudi. Tatkala ia
meminta pelunasan dari Nabi, beliau menjelaskan bahwa dirinya belum punya
apa-apa untuk membayar utang tersebut. Si Yahudi berkata, "Saya tidak akan
meninggalkanmu, Muhammad, sampai engkau membayarnya." Nabi berkata,
"Kalau begitu saya akan duduk bersamamu".
Karena Nabi konsisten dengan ucapannya, beliau melakukan
hal tersebut. Nabi shalat dari dzuhur hingga esok paginya, shalat subuh, tidak
jauh-jauh dari lelaki Yahudi tadi.
Para sahabat Nabi yang mengetahui hal tersebut mengecam
si Yahudi. Mereka berkata, "Ya Rasulullah, apakah orang Yahudi ini yang
menahanmu?" Beliau menjawab, "Tuhanku menahanku untuk tidak menyalahi
kesepakatan yang kubuat dengan orang Yahudi atau orang lain."
Singkat riwayat, setelah beberapa hari berlalu,
"Yahudi itu berkata, " Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain
Allah dan engkau adalah Rasulullah. Separuh kekayaan saya akan saya belanjakan
di jalan Allah. Saya bersumpah, tujuan saya memperlakukan engkau seperti itu
semata-mata untuk memastikan gambaran tentang engkau yang telah diungkapkan
dalam Taurat (Baihaqi dalam Dalail an-Nubuwwah).
Di riwayat lain, Umayyah bin Safwan mengutip dari ayahnya
yang mengatakan bahwa pada Perang Hunain, Nabi telah meminjam baju besi
darinya. Ia bertanya pada Nabi, "Apakah engkau akan mengambilnya dengan
paksa, Muhammad?" Terhadap pertanyaan ini Nabi menjawab, "Tidak, itu
adalah sebagai pinjaman dengan jaminan pasti akan dikembalikan." (HR. Abu
Dawud).
Pada suatu kali datanglah seorang kreditor, dan
memperlakukan Nabi dengan sangat kasar saat menagih utangnya. Umar ingin
menangkap orang tersebut tetapi Rasulullah malah mengatakan, "Umar,
hentikan, aku lebih suka agar engkau menyuruhku untuk membayar utang tersebut -
karena ia lebih membutuhkan - daripada engkau menyuruhnya untuk bersabar."
(Zad al-Maad).
Muhammad Saw pernah membeli seekor unta, kemudian
datanglah penjualnya dan meminta uangnya dengan kata-kata yang sangat kasar.
Para sahabat mendengarnya tetapi beliau berkata, "Biarkan ia, sebab si
pemegang hak berhak untuk berbicara."
Keteguhan Muhammad Saw dalam menerapkan prinsip-prinsip
transaksi bisnis dan muamalah yang haq, bersumber dari kokohnya aqidah yang
menghujam di hati beliau. Suatu ketika, beliau bertransaksi dagang dengan
seseorang, dan perselisihan di antara mereka pun terjadi.
Orang-orang meminta agar Muhammad Saw bersumpah atas nama
Tuhan mereka, al-Lat dan al-Uzza, untuk memperkuat pernyataannya. Kata
Muhammad, "Aku tidak akan pernah melakukan itu. Bahkan, kapan saja jika
aku kebetulan melewati berhala, aku sengaja menjauhinya dan mengambil arah
lain."
Mendengar ketegasan Nabi, seseorang merasa terkesan dan
berkata, "Engkau jujur dan apa saja yang engkau utarakan adalah mutlak
benar. Demi Allah, inilah dia seorang laki-laki yang keagungannya selalu
dielu-elukan oleh para intelektual kami dan telah disebutkan oleh kitab suci
agama kami." Banyak riwayat yang menggambarkan tingginya budi pekerti
Muhammad Saw terkait transaksi binsis dan kegiatan muamalah.
Sumber:
syafiiantonio.com



0 comments:
Post a Comment