Kebutuhan dan Keinginan
Monday, April 15, 2013
0
comments
Oleh: Yusuf Mansur
Untuk mencapai kebahagiaan, lebih baik membatasi keinginan
daripada memanjakannya.
Janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, niscaya ia akan
menyesatkan kamu dari jalan Allah. (QS. Shad: 26)
Kebutuhan dan keinginan adalah dua hal yang berbeda.
Makan, bisa dikatakan sebagai sebuah kebutuhan. Tapi makan dengan kemewahan,
makan di rumah makan kelas atas, maka kebutuhan itu berubah menjadi keinginan.
Rumah adalah kebutuhan, tapi memiliki rumah mewah dengan beragam fasilitas
“wah”, maka kebutuhan tersebut sudah menjadi keinginan. Kendaraan, motor, atau
mobil, misalnya, adalah kebutuhan, tapi ketika ingin memiliki motor dan mobil
yang lain, yang lebih bagus, atau sekadar mengoleksi, maka bisa dikategorikan
itu bukan kebutuhan, melainkan keinginan.
Tentu saja, setiap orang tidak bisa digeneralisasikan
seperti demikian adanya. Setiap orang, setiap manusia, mungkin saja memiliki
kategori kebutuhan dan keinginan yang berbeda. Misalnya, bisa jadi, seseorang
memang harus makan di rumah makan nan mewah untuk urusan negoisasi dan
transaksi bisnis. Hanya, manusia sebagai makhluk yang dilengkapi oleh nafsu,
tentu akan selalu ada keinginan-keinginan di samping kebutuhan-kebutuhan
standarnya sebagai manusia normal.
Ada nasihat bijak seputar kebahagiaan dan ketenangan
bahwa “kebahagiaan dan ketenangan bisa diraih bukan dengan symbol keduniawian;
rumah, kendaraan, kedudukan, jabatan, uang dan harta pada umumnya. Ia diraih
lewat kefitrian batin, kesucian jiwa, dalam memegang kendali amanah yang
diberikan Allah. Akan percuma harta yang teraih lewat cara-cara yang kotor
karena hanya akan membuahkan ketidaktenangan di ujungnya. Kekurangan yang
diterima apa adanya dan kondisi hidup yang disyukuri, akan lebih menjajikan ketenangan
dan kebahagiaan.
Kiranya yang demikianlah yang dinamakan zikir bahwa apa
pun yang kita lakukan, kita ingat ada Dia Yang Mengawasi. Dan apa pun yang kita
nikmati, kita ingat bahwa dari Dialah semua hal kita dapatkan dan karenanya
kita tidak menjadi sombong dan lupa diri. Orang-orang mukmin meraih kebahagiaan
dengan mengingat Allah. Orang-orang yang beriman, hati mereka menjadi tenteram
dengan mengingat Allah. (QS. Al Ra’d: 28)
“Ya Allah, hamba sadar, salah satu penyebab kerusakan
irama kehidupan hamba adalah karena keinginan yang dipaksakan dan kebutuhan
yang didasarkan pada nafsu. Demi kebahagiaan dan ketenangan sejati, embuskan
sikap qana’ah, sikap menerima di hati hamba agar bisa menerima kehidupan ini
apa adanya. Dan demi apa yang dinamakan kenikmatan menurut sisi-Mu, ajarkan
hamba untuk memiliki sikap sabar dalam proses pencarian rezeki dan keringanan
untuk berbagi. Kebutuhan dan keinginan pada diri hamba sering sekali tidak
terkendali, tapi bila Engkau berkehendak dan juga sebab rahmat-Mu, hamba yakin
hamba bisa mengendalikan diri.”
Sumber:
hadila.com



0 comments:
Post a Comment