Bangun Peradaban Islam, Jauhkan Punggung dari Tempat Tidur!
Sunday, February 24, 2013
0
comments
ISLAM
meruapakan satu peradaban yang sangat
besar yang mampu berdiri sendiri di atas kebesaran pentas kejayaan peradaban
dunia, bahkan dengan kehadiran Islam melahirkan corak pandangan baru dalam
dunia perubahan. Dunia yang pada mulanya gelap kini menjadi bersinar dengan
kedatangan Islam, sains diperkenalkan, derajat manusia ditinggikan, para
pemikirnya lahir menyebar keseluruh penjuru dunia.
Jika
kita kembali memutar roda sejarah, pada abad pertengahan (4 Hijriyah) dan
melihat bagaimana peradaban yang berkembang di dunia Eropa saat itu manusia tidak lebih daripada
binatang, cara hidup yang mereka jalankan tak ubahnya segorombolan sapi liar
yang hidup dan tidur diatas kotorannya, tempat tinggalnya kumuh tidak mengambarkan
layaknya tempat tinggal makhluk yang bernama manusia. Rumah-rumah dibangun di
dataran rendah, berpintu sempit tidak terkunci dan dinding serta temboknya
tidak berjendela. Udara penuh dengan polusi dan wabah penyakit menyebar bebas
dan mudah menyangkit hewan ternak yang marupak sumber penghasilan yang paling
utama saat itu.
Dan
pada masa itu pula Eropa penuh dengan hutan-hutan belantara, sistem
pertaniannya terbelakang. Dari rawa-rawa
yang terdapat dipinggran kota tersebar bau busuk yang mematikan, sungai-sungai
menjadi tidak mengalir tersumbat oleh tumpukan-tumpukan sampah dan bangkai
binatang liar. Lebih dari itu, penduduknya tidak mengenal isltilah kebersihan,
sampah-sampah merka buang di sembarang tempat. Sungguh saat itu Mereka tidak
mengenal peradaban bahkan bukan pelaku peradaban.
Sebaliknya,
kerajan-kerajaan Islam tersusun rapi dan kokoh, gedung-gudungnya menjulang
langit dan dilapisi oleh marmer indah dengan bintikan mutiara, jendela terhias
dengan lukisan indah berbintik permata dan perumahan masyarakat yang artistik
dimana ketika malam hari tiba kilauan lampu menyebar di mana-mana sehingga
pejalan kaki memperoleh cahaya sepanjang sepuluh mil tanpa terputus.
Lorong-lorongnya dialasi batu ubin sehingga tak sedikitpun dijumpai genangan
air saat hujan turun dan sampah-sampahpun disingkirkan dari jalan-jalan.
Islam
sudah memiliki ribuan sekolah, ketika di mana masyarakat Eropa waktu itu
terbelenggu dengan kebodohannya. Dari waktu ke waktu lahir ratusan bahkan
ribuan generasi intelek yang selalu tampil dengan gagasan-gagasan baru yang justru
menjadi sumbangan besar terhadap perkembangan daulah dan kerajaan. Di Cordoba
misalnya, dipinggiran kota bagian timur terdapat sekitar 170 orang wanita
penulis mushaf dengan khat Khufi. Di seluruh Cordoba terdapat 50 rumah sakit
dan 80 sekolah. Orang-orang yang tidak
mampu dari segi perekonomian tetap memiliki kebebasan bersekolah secara
percuma alias gratis.
Ummat
Islam saat itu sangat menunjol dalam menguasai ilmu dan sains, banyak kalangan
pemikr-pemikir Barat yang kemudian mengaku takjub terhadap ilmuan Islam
terdahulu, sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh Dr. Robert Briffault
didalam bukunya “the Making Of Hummanity” bab “Dar Al-Hikmet” berkata,
“Sumbangan dari peradaban Arab (maksudnya Islam) kepada dunia Barat yang paling
berarti adalah sains.”
Dalam
sejarah Islam itu memang tumbuh dari kawasan jazirah Arab yang kemudian
berkembang pesat disbabkan oleh perjuangan para pembesar-pembesar Arab yang
dikirim atau hijrah ke berbagai daerah di seluruh penjuru dunia, mulai dari
kawasan Hindia hingga Asia termasuk juga Eropa. Karenanya, banyak peneliti
Barat sering menyebutkan, kehabatan dan kemajuan Barat tak lain karena
berhutang warisan peradaban kepada Islam.
Pakar
dan ilmuan Muslim dengan berbagai penemuannya menjadi bahan acuan orang-orang Barat untuk terus mengembangkan
penemuan itu hingga kini. Dari alat medis,
alat bedah dan temuan-temuan ilmu lain. Adalah Abu Al-Qosim Al-Zahrawi
(936-1013 M), beliaulah yang pertama mengenalkan terhadap dunia tentang nama
penyakit hemofolia yang merupakan penyakit turunan atau genitis. Kitabnya
At-tafsir diterjemahkan kedalam bahasa Latin dan kemudian menjadi bahan rujukan
selama lima abad di Universitas Salerno Italia dan beberapa Universitas lain di
Eropa.
Ibnu
Sina (980-1037 M), merupakan orang pertama yang menjelaskan ilmu kedokteran
modern. Ia menjelaskan tentang radang selaput otak atau manginitis.
Kitabnya, Al-Qonun diterjemahkan kedalam
bahasa Latin dan menjadi bahan rujukan di sekolah-sekolah kedokteran yang
berada di Eropa mulai dari abad 12-17, bahkan ada yang menyebutkan bahwa buku
ini adalah satu-satunya buku yang menjadai bahan refrensi di universitas
terkemuka di Eropa dengan kurun waktu yang begitu panjang mengungguli buku-buku
lain yang juga berbicara masalah pengobatan. Bahkan sampai hari ini.
Di
bidang matematika, adan Mohammad Ibn Musa Al-Khawarizimi (Meninggal 480
M), penggagas Ilmu al-jabar. Nama
Al-jabar diambil dari nama buku beliau “Al-Jabar wal-Muqobilah”. Konsep
algoritme diberi nama mengikuti namanya, yaitu Khawarizimi. Menurut pemikir
Barat, beliau ini banyak mempengaruhi Barat dari sudut ilmu matematikanya yang
bahkan mengalahkan penulis lain.
Berfikir, bekerja dan bangkit
Di
abad ini, dari sekian banyak sumbangan-sumbangan yang diberikan oleh
pemikir-pemikir handal Muslim tersebut ternyata hanya dinikmati oleh mereka dan
sekelompok orang. Sains, hari ini justru
tidak menjadi sumber inspirasi mayoritas ummat Islam. Umumnya kaum
Muslim terlena dengan mimpi-mimpi yang hanya merupakan hayalan kosong yang
justru menjadikan Islam menjadi tertinggal, mareka bersikap apatis terhadap
sains dewasa ini. Akibatnya ummat Islam
menjadi lemah di bidang sains, dan akhirnya mereka menjadi tertinggal dan
terbelakang, salah satu penyebabnya adalah tidak lain karena kita terlalu
disibukkan dengan saling berdebat dan berfilosofi dengan hal yang tidak penting
atau bukan hal yang utama dan tidak bermanfaat, dan sekarang, ummat Islam
menjadi tertinggal.
Yang
lebih memprihatinkan, sebagian kaum Muslim tidak mengenal para cendekiawan
Muslim yang sumbangannya terhadap ilmu pengetahuan telah menginspirasi Barat.
Sebaliknya, mereka belajar kepada Barat dan ujungnya terkagum-kagum dengannya.
Peradaban
Islam akan sulit bangkit dengan cepat, jika kondisi umat kita masih seperti
ini. Pekerjaan pertama adalah bertauhid secara lebih murni. Para menteri,
eselon, peneliti, dosen, dokter, pengacara, insinyur, hakim, jaksa, guru,
hingga kuli batu, semua lini, terutama presidennya harus ‘bertauhid’ secaca
benar dahulu.
وَلَا
يَمْلِكُ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِهِ الشَّفَاعَةَ إِلَّا مَن شَهِدَ بِالْحَقِّ
وَهُمْ يَعْلَمُونَ
Allah
berfirman, “Dan sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah tidak dapat
memberi syafa’at; akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa’at ialah) orang
yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka meyakini(nya).” (QS: Az Zukhruf
[43]: 86). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa mati dalam
keadaan mengilmui la ilaha illallah pasti masuk surga.” (HR: Al Bukhari dan
Muslim). Dan makna yang benar dari kalimat la ilaha illallah لاَ إِلَهَ إِلاَّ الل
yaitu 'tidak ada sesembahan', tak ada yang 'dituhankan' yang hak melainkan
Allah Ta’ala.
Kalau
masih ada di kalangan Muslim masih 'menuhankan' harta, ilmu atau masih ada
'ilah-ilah' lain selain Allah Subhanahu Wata'ala, maka mimpi kejayaan itu masih
jauh, karena Allah tak akan menurunkan rahmatnya.
Kedua,
perbanyak ‘menyerap energi dari Allah”
dengan cara ‘menjauhkan punggung dan lambung kita dari tempat tidur’.
تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ
رَبَّهُمْ خَوْفاً وَطَمَعاً وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ
فَلَا
تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّا أُخْفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاء بِمَا كَانُوا يَعْمَلُون؛ث
Artinya,
“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada
Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap (dengan qiyamul lail, red), serta
mereka menafkahkan apa apa rezki yang Kami berikan. Tak seorangpun mengetahui
berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai Balasan bagi mereka,
atas apa yang mereka kerjakan.” (QS: As-Sajdah [32]: 16-17)
Ketiga,
sarat selanjutnya ya berfikir, bekerja keras, tidak bermalas-malasan serta
bersungguh-sungguh. Karena itulah ciri seorang Muslim.
فَإِذَا
فَرَغْتَ فَانصَبْ
“Maka
apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan
sungguh-sungguh (urusan) yang lain.” (QS; Al Insyirah [94]: 7).
Semua
yang berkenan kembalinya kejayaan peradaban Islam, harus punya niat dalam
dirinya, bahwa apa yang dilakukan --apapun profesinsya, kecuali yang
diharamkkan Allah-- harus selalu diniatkan untuk mencari ridho Allah Subhanahu
Wata'ala dan juga untuk 'kejayaan dan kemuliaan Islam'. Semoga kita
diperkenankan Allah Subhanahu wata’ala bisa mengembalikan dan membangkitkan
kejayaan dan peradaban Islam dengan ilmu dan keahlian yang kita miliki.*
Penulis pernah nyantri di PP Darul Ulum
Banyu Anyar, Pamekasan Madura
Sumber: hidayatullah.com



0 comments:
Post a Comment