Enam Panduan Berbicara Bagi Kaum Beriman
Sunday, February 24, 2013
0
comments
Oleh M Husnaini
Setiap manusia punya hak berbicara. Berbicara adalah alat
komunikasi tertua, selain juga paling murah bagi manusia.
Sebelum bisa membaca dan menulis, manusia sudah mampu
berbicara untuk menyampaikan maksudnya. Mula-mula manusia berbicara dengan
isyarat dan tanda, kemudian berkembang menjadi aneka ragam bahasa seperti
sekarang.
Berbicara yang baik bisa membuat hubungan menjadi intim
dan akrab. Sebaliknya, berbicara ngawur berisiko menebar racun permusuhan.
Demikian dahsyat dampak berbicara sehingga Islam memberikan panduan khusus
untuknya. Bagaimana panduan berbicara?
Pertama, berbicara benar (qaulan sadida). Berbicara benar
berarti juga mengandung kejujuran. Jujur melahirkan kepercayaan, sementara
kepercayaan adalah modal kebersamaan. Karut marut negeri ini jelas akibat dari
menguapnya kejujuran. “Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tidak akan
percaya,” kata orang Melayu.
Para elite negeri ini berkali-kali lancung ke ujian,
sehingga butuh upaya keras agar orang mau percaya lagi “Hai orang-orang
beriman, bertakwalah kepada Allah dan berbicaralah yang benar” (Al-Ahzab:
70-71).
Kedua, berbicara yang baik (qaulan makrufa). Makruf
adalah nilai kebaikan yang diakui masyarakat dan tidak bertentangan dengan
norma dan agama. Kita diperintah untuk berbicara yang baik dan pantas menurut
takaran norma dan agama, isi maupun cara. Dilarang berbicara jorok dan dusta,
karena itu menyalahi norma dan agama. “… berilah anak-anak yatim belanja dan
pakaian dan berbicaralah kepada mereka dengan ucapan yang baik” (An-Nisa: 5).
Ketiga, berbicara mulia (qaulan karima). Memuliakan itu
cermin unggah-ungguh, apalagi kepada mereka yang lebih tua dari kita. Khusus
berbicara kepada orang tua kandung, terutama ketika mereka sudah sepuh, harus
dipilih kalimat yang tidak menyinggung perasaan. Jangan berbicara tidak sopan
yang merendahkan. “Jika salah satu dari keduanya atau keduanya sudah berumur
lanjut dalam peliharaanmu, maka jangan sekali-kali kamu ucapkan ‘ah’ dan jangan
kamu membentak mereka dan ucapkan kepada mereka perkataan yang mulia” (Al-Isra:
23).
Keempat, berbicara yang lembut (qaulan layina). Berbicara
lembut sangat dianjurkan, karena lebih bisa diterima telinga. Tidak ada yang
menyukai ucapan kasar. Inilah alasan kenapa Nabi Musa dan Nabi Harun
diperintahkan agar menggunakan bahasa yang lembut ketika hendak menemui
Fir’aun. “Dan berbicaralah kalian berdua kepada Fir’aun dengan lembut.
Mudah-mudahan dia ingat atau takut” (Thaha: 44). Tetapi lembut bukan berarti
lembek. Rasulullah adalah pribadi yang sangat lembut, tetapi tegas dalam
menyampaikan kebenaran.
Kelima, berbicara yang menggembirakan (qaulan maisura).
Bisa juga berarti ucapan yang memberi harapan. “Dan jika kamu berpaling dari
mereka (tidak bisa membantu) untuk memperoleh rahmat dari Tuhan, maka katakan pada
mereka ucapan yang menggembirakan” (Al-Isra: 28). Ayat ini terkait teguran
Allah kepada Rasulullah ketika datang seorang miskin untuk meminta bantuan
kepada Rasulullah, tetapi beliau secara terus terang menyatakan tidak bisa.
Keenam, berbicara yang menyentuh (qaulan baligha).
Berarti pula berbicara yang mengena, tidak mutar-mutar. Juga bisa berarti
nasihat, saran, atau kritik yang membangun. Kuncinya, semua harus keluar dari
hati yang bersih. Teguran akan meninggalkan kesan mendalam jika diucapkan dengan
hati yang tulus. Yang dari hati akan sampai ke hati. Sebaliknya, nasihat,
saran, atau bahkan kritik akan terasa menyakitkan jika keluar dari emosi
membara.
Inilah panduan berbicara bagi kaum beriman. Layaklah kita
selalu berusaha dan berdoa, semoga setiap untaian kata dan kalimat yang
meluncur dari mulut kita bertabur kejujuran, kebaikan, kemuliaan, kelembutan,
harapan, dan kesan mendalam di hati siapa saja yang mendengarnya.
*) Penulis
adalah Mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surabaya
Sumber:
republika.co.id



0 comments:
Post a Comment