Memuhammadiyahkan Amal Usaha

Posted by KahfiMedia Tuesday, February 26, 2013 0 comments


Dua senin, saya tidak bisa menyempatkan diri membuat catatan. Karena fokus membuat tulisan dalam bidang pendidikan. Kisah memilukan terus saja mendera, para kader potensial Muhammadiyah yang terpaksa kecewa karena mereka tidak bisa bekerja di amal usaha Muhammadiyah karena kalah bersaing disebabkan faktor ‘rekomendasi’.

Bukan sekali saja cerita itu datang. Pernah satu kader melamar di sekolah Muhammadiyah, sang kepala sekolah mengatakan formasi yang dimaksud tidak ada. Anehnya tidak selang berapa lama, salah satu kerabat sang kepala sekolah yang tidak aktif di Muhammadiyah masuk dengan sukses di sekolah itu. Saya tak bisa membayangkan betapa kecewa sang kader ketika mengetahui itu.

Pernah pula, seorang yang tidak aktif dalam Muhammadiyah datang ke pengurus ranting meminta pembuatan kartu Muhammadiyah. Dia berjanji setelah diterima kerja di amal usaha akan aktif di Muhammadiyah. Di kemudian hari, nyatanya setelah dia bekerja di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, ia tak pernah datang meskipun sering diundang di ranting.

Cerita hampir sama banyak terjadi di amal usaha lainnya, Sekolah, PKU, Universitas, Percetakan, Klinik dan lainnya. Kemudian para pengurus teras Muhammadiyah (yang sebagian juga menikmati hasil dari amal usaha) memberikan pendapatnya. Bermuhammadiyah harus ikhlas, tidak bertujuan bekerja di Muhammadiyah. Kalau saya pikir, kalau ada kader yang lebih layak bekerja di AUM kenapa diberikan kepada mereka yang bahkan tidak peduli dengan Muhammadiyah? Hmmm....

Sudah saatnya amal usaha Muhammadiyah kembali direbut kembali oleh para kader Muhammadiyah. Jangan biarkan AUM hanya dijadikan sapi perah untuk orang-orang yang hanya memanfaatkan Muhammadiyah sebagai sumber meraih harta dengan melupakan Muhammadiyah. Saya percaya masih banyak kader yang layak untuk duduk di AUM menjadikan para kader karbitan tersebut.

Memuhammadiyahkan AUM bisa ditempuh dengan beberapa langkah:
Pertama, mengembalikan posisi Muhammadiyah yang berada di atas AUM. Kendali AUM harus terus dikontrol, karena ada kesan selama ini para pimpinan AUM menjadi kebal nasehat dan sebaliknya pengurus Muhammadiyah terlihat kehilangan wibawanya.

Kedua, memastikan pola rekruitmen pegawai di AUM punya standar yang sama atau minimal memiliki acuan yang jelas. Karena selama ini penerimaan pegawai kadang tidak dikonsultasikan dengan Muhammadiyah, melainkan hak para pengurus AUM.

Ketiga, selektif dalam menerbitkan kartu tanda anggota Muhammadiyah. Selama ini menurut pengamatan saya, banyak orang yang mencari kartu anggota hanya karena untuk syarat mencari pekerjaan di AUM. Sayangnya para pengurus ranting dan cabang, juga tidak selektif. Mudah memberikan rekomendasi kepada mereka yang tidak aktif di Muhammadiyah. Saya pikir jika ada aturan tertulis yang jelas,misal minimal mereka aktif sekian tahun atau menjadi pengurus, untuk mendapat kartu anggota. Mereka akan merasa risih jika tak memenuhi syarat itu.

Keempat, pembinaan yang intensif kepada mereka yang sudah terlanjur bekerja di AUM, selain membuat pakta integritas (mumpung lagi ‘in’). Tentang Muhammadiyah, dengan berbagai aspeknya. Jika ternyata dengan langkah itu tidak mempan, beri opsi agar mereka berhenti dari AUM. Masih banyak kader yang siap mengganti.


Demikian di antara pemikiran saya, tentu saja semua itu pengamatan saya di tingkat ranting. Karena memang saya hanyalah bagian dari ranting dan cabang. Mungkin para pejabat teras di tingkat yang lebih tinggi memiliki kebijakan yang lebih baik. Agar Muhammadiyah tidak menjadi brand untuk diwaralabakan. Semoga.

*) Penulis adalah pengurus Muhammadiyah Ranting Sedangagung bidang Kader

0 comments:

Post a Comment

Terbanyak Dibaca

Sosok

Risalah

Catatan

Kabar

Halaman Dilihat