Daging Bukan Hanya Sapi…
Monday, February 11, 2013
0
comments
Di
tengah hiruk pikuk pemberitaan tentang daging sapi, ada hal yang harus disadari
oleh masyarakat yaitu bahwa harga daging sapi nampaknya akan terus semakin
mahal. Demand dalam negeri yang akan cenderung melonjak oleh pergeseran
konsumsi ketika masyarakat meningkat kemampuan ekonominya – lihat kasus China –
akan semakin jauh meninggalkan supply-nya. Problem serius bagi masyarakat luas,
tetapi peluang besar bagi yang mau menggarapnya.
Melebarnya
gap antara demand dengan supply ini dapat kita lihat dari data dua tahun
terakhir. Tahun 2011 lalu konsumsi daging sapi nasional kita sekitar 450,000
ton, lebih dari sepertiganya (157,000 ton) diimpor. Tahun 2012 konsumsi daging
meningkat sekitar 7.5 % menjadi 484,000 ton sementara yang diimpor adalah turun
menjadi sekitar 85,000 ton.
Asumsinya
tentu kekurangan nya terisi oleh supply daging dalam negeri, bagaimana kalau
tidak ? disitulah terjadi pelebaran gap antara demand dan supply yang
menyebabkan harga daging sapi melonjak di tahun 2012 lalu. Gap tersebut masih
akan terus melebar karena tahun 2013 diperkirakan kebutuhan daging sapi akan
mencapai sekitar 500,000 ton sementara
impor direncanakan akan hanya mencapai 80,000 ton.
Lantas
apakah solusinya memperbesar impor ? untuk jangka pendek mungkin itu yang masih
harus terpaksa dilakukan. Tetapi jangka panjang tentu harus ada solusi yang
lebih strategis.
Apakah
departemen terkait yaitu Departemen Pertanian tidak melihat masalah ini dan
tidak berbuat sesuatu ?, oh disana banyak orang pinter dan segudang Doktor di
bidangnya – tentu mereka sudah banyak berbuat.
Dari
laporan menteri yang terkait, saya melihat mereka telah berbuat antara lain
dengan melakukan pengendalian impor, perbaikan distribusi, penyelamatan sapi
betina produktif, optimalisasi RPH, Peningkatan Produktifitas, Good Farming
Practice dlsb. Hanya saja saya melihat
ini belum cukup, mengapa ?
Pertama
dengan langkah-langkah normatif tersebut, saya belum melihat supply daging sapi
akan bisa meningkat secara significant dalam foreseeable future. Kedua ada gap
kebutuhan daging yang nampaknya belum diperhitungkan.
Seperti
kasus China yang saya tulis dalam tulisan khusus “Peluang Di Pangan Dan Pakan”
pekan lalu, ada peningkatan konsumsi daging yang tidak proporsional terhadap
peningkatan jumlah penduduk. Ketika pertumbuhan penduduk rata-rata Indonesia
sedikit dibawah angka 1.5 % pertahun. Kebutuhan
daging sapi dari tahun 2011 ke 2012 meningkat sampai 7.5% !. Bila trend
semacam ini terus berlanjut, maka demand gap terhadap supply akan melonjak –
dan hal seperti inilah yang sudah terjadi di China antara 2001-2011 seperti
dalam tulisan saya tersebut di atas.
Berdasarkan
fakta-fakta tersebut, maka di tahun 2020 ketika penduduk Indonesia akan
mencapai sekitar 275 juta orang kebutuhan daging sapi saya perkirakan akan
mencapai sekitar 927,000 ton – atau hampir dua kali dari kebutuhan sekarang.
Bisa
dibayangkan melebarnya gap antara demand dengan supply itu – yang tentu saja
akan mendorong harga daging sapi yang semakin tidak terjangkau. Lantas apa
solusinya ?, dari mana kita memulainya ?. Disinilah lahan amal Anda yang
tertarik untuk ikut terlibat memberi solusi bagi problem yang ada di masyarakat
ini – sekaligus menjadikannya peluang usaha yang sangat menarik kedepan.
Peluang
Di Kebutuhan Daging
Peluang
itu datangnya tidak seperti ayam dan telur - mana yang lebih dulu, kita mulai
dari mana saja insyaAllah bisa. Ilustrasinya dapat dilihat pada gambar di
samping.
Kita
bisa mulai memanfaatkan peluang dengan Kreativitas Sektor Hilir, dengan
mengubah dari paradigma ‘Daging Adalah Daging Sapi’ (masyarakat mengutamakan
daging sapi ) menjadi ‘Daging Bukan Hanya Sapi’ (masyarakat tidak harus
mengandalkan daging sapi untuk pemenuhan kebutuhan dagingnya). Menu-menu
makanan yang mengandalkan daging selain sapi akan menjadi semakin menarik.
Peluang
lainnya adalah di industri pakan, yang miss dari program pemerintah untuk
swasembada daging seperti yang saya kutip dari laporan menteri pertanian
tersebut di atas adalah belum adanya fokus pada perbaikan supply pakan.
Apalagi
kalau kita berpegang dari petunjuk di Al-Qur’an bahwa ketika kita disuruh
memperhatikan apa yang kita makan, rangkaian ayat-ayatNya ini ditutup dengan
kita disuruh memperhatikan kenikmatan (makanan) ternak kita.
“maka
hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya…untuk kesenanganmu dan untuk
binatang-binatang ternakmu” (QS 80 : 24-32).
Disinilah
salah satu peluang terbaik itu, di negeri ini sangat cukup tersedia bahan baku
untuk menyiapkan pakan untuk ternak-ternak kita. Tetapi siapa yang akan
menggarap ini ?
Selama
ini sudah sangat banyak industri pakan skala besar milik para konglomerat
global – yang sebagian bahan bakunya juga harus diimpor. Tetapi ternyata inipun
belum menjawab kebutuhan daging kita.
Peluang
yang kemudian bisa digarap oleh orang kebanyakan seperti kita-kita barangkali
adalah sektor UKM-nya. Bayangan saya adalah tumbuhnya usaha-usaha kecil pakan
ternak yang mengandalkan ketersediaan bahan baku setempat untuk menunjang
tumbuhnya peternak-peternak skala kecil-menengah di sejumlah wilayah yang
menyebar luas ke seluruh nusantara.
Problem
bersama masyarakat, menjadi peluang bersama dan digarap rame-rame bersama
masyarakat pula. InsyaAllah kita bisa !.
Sumber: geraidinar.com
_____________________
Muhaimin
Iqbal adalah pakar dan praktisi ekonomi Islam
Alumni
SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta



0 comments:
Post a Comment