Felix Siauw : Demokrasi Bukan Cara Islam
Wednesday, February 13, 2013
0
comments
10
Muharam 1434 H, disubuh yang dingin, di Masjid Darussalam Kota Wisata, jamaah
Masjid dihidangkan tausiah oleh seorang Dai keturunan tionghoa Felix Siauw,
menguraikan kenapa dan bagaimana caranya umat Islam ini bangkit.
Mengawali
tausiahnya , beliau katakana segala sesuatu ada pusatnya, manusia ada pusatnya
yang disebut pusar, begitupun dunia inipun ada pusatnya, dunia ini bila
ditinjau dari sisi geografis dan dan
konflik dunia hingga kini , terlihat jelas dunia ini berpusat di timur tengah,
disanapun banyak para nabi lahir ,
berjuang disana dan wafatpun di sana ,
sebutlah sejumlah nabi dan termasuk Nabi Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad…lahir
disana…
Perjalanan
dunia, banyak tahapannya dan sejarah mencatat didunia ini pernah ada
kekuatan imperium Persia dari wilayah
timur, sebuah kekuatan yang mencakup
wilayah sepanjang wilayah lebih dari 7 juta KM, dan dibagian barat ada
imperium romawi yang menguasai 5 juta KM lebih…pada saat itu apalah artinya
wilayah Arab? Wilayah yang terjajah sebagian oleh Romawi dan sebagian oleh
Persia, dan pertempuran Persia dan Romawi pun berada di wilayah pusat dunia,
yaitu wilayah Arab.
Bayangkan
pada saat dua kekuatan itu sangat berkuasa, Muhammad Rasulullullah saat itu
tidaklah bisa dikatakan sebagai kekuatan apa pun…tapi beliau SAW sudah mampu
untuk mengirimkan surat kepada para adikuasa tersebut untuk diajak kepada
Islam, bila mereka menganut Islam maka
akan selamat. Surat yang inti sebenarnya sebenarnya bukanlah surat sekedar
ajakan tetapi cenderung surat itu adalah surat ancaman …surat yang dilakukan
oleh sebuah daulah yang belum bisa dibilang apa tapi sudah memberikan ancaman
kepada adikuasa , Apa rahasianya?
Rahasianya
adalah, Islam itu harus ada 3 pilar pembangunan karakter, pilar tersebut adalah
Kekuatan Pribadi, Kekuatan Masyarakat dan Kekuatan Daulah!
Pilar
pertama , Kekuatan pribadi, umat muslim harus menjadikan islam hadir secara
penuh di jiwanya, setiap melakukan apapun sejak dari masuk ke kamar kecil,
makan, dan apapun aplikasi kehidupan dilakukan dengan cara Islam. Kumpulan
pribadi pribadi ini berkumpul dalam masyarakat yang berjamaah, maka kekuatan
jamaah itu pun muncul , jamaah ataupun bermasyarakat ini menjadi Pilar Kedua,
karena Allah bersama dengan jamaah. Maka Allah berikan karunia , dan
dimunculkanlah orang orang hebat dari Islam yang tentunya berasal juga dari
jamaah yang kuat. Dengan jamaah dan masyarakat yang kuat maka akan terdorong
keinginan jamaah tersebut untuk lebih tampil dan membentuk kekuatan daulah yang
berdasarkan aturan syariah Islam, meninggikan kalimat Allah dan Islam, kekuatan
daulah inilah yang menjadi Pilar Ketiga yang akan menjaga kepentingan Islam,
dan sebaliknya Islam juga akan menjaga daulah. Beliau mensitir ucapan Usman Bin
Affan bahwa kekuasaan dan Islam adalah dua sisi yang saling melengkapi, maka
dengan kekuasaanlah dakwah Islam akan terjaga, dan dengan Islam juga Daulah
terpelihara.
Beliau
lanjutkan , Islam butuh kekuasaan, tapi untuk meraih kekuasaan , bukanlah
seperti cara politik yang terjadi saat ini, arena politik saat ini adalah
berkiblat dari politik Machiavelli, politik sebagai alat untuk meraih kekuasaan
dengan segala cara, yang diterapkan seperti yang kita kenal sekarang yaitu
Demokrasi , dan beliau katakana dengan tegas bahwa beliau tidak setuju dengan
konsep demokrasi , asal demokrasi bukanlah dari Islam, dan bukan cara Islam ,
bagaimana demokrasi memutuskan dan menentukan yang benar kalau kebenaran itu
berdasarkan suara terbanyak? , ketahuilah yang benar itu berasal dari Allah,
dan bukan suara makhluk terbanyak. Saya tidak bersependapat dengan itu, walau
kita sepakat harus menerapkan ukhuwah
bagi para kelompok yang mengambil jalan itu, bila ijtihad mereka itu sepanjang ada Nash yang jelas yang
mendasari, kita harus bertoleransi, dan
tetap membina ukhuwah dengan mereka, karena perpecahan umat jauh lebih buruk
daripada persoalan penyimpangan syariah saat ini. (m)
Sumber: eramuslim.com


0 comments:
Post a Comment