Mengenal Dinar dan Dirham Islam
Thursday, February 28, 2013
0
comments
Oleh : Muhaimin Iqbal
Pada zaman Khalifah Umar bin Khattab sekitar tahun 642
Masehi bersamaan dengan pencetakan uang Dirham pertama di Kekhalifahan, standar
hubungan berat antara uang emas dan perak dibakukan yaitu berat 7 Dinar sama
dengan berat 10 Dirham.
Berat 1 Dinar ini sama dengan 1 mitsqal atau kurang lebih
setara dengan berat 72 butir gandum ukuran sedang yang dipotong kedua ujungnya
. Dari Dinar-Dinar yang tersimpan di musium setelah ditimbang dengan timbangan
yang akurat maka di ketahui bahwa timbangan berat uang 1 Dinar Islam yang
diterbitkan pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan adalah 4.25 gram, berat
ini sama dengan berat mata uang Byzantium yang disebut Solidos dan mata uang
Yunani yang disebut Drachma.
Atas dasar rumusan hubungan berat antara Dinar dan Dirham
dan hasil penimbangan Dinar di musium ini, maka dapat pula dihitung berat 1
Dirham adalah 7/10 x 4.25 gram atau sama dengan 2.975 gram .
Sampai pertengahan abad ke 13 baik di negeri Islam maupun
di negeri non Islam sejarah menunjukan bahwa mata uang emas yang relatif
standar tersebut secara luas digunakan. Hal ini tidak mengherankan karena sejak
awal perkembangannya-pun kaum muslimin banyak melakukan perjalanan perdagangan
ke negeri yang jauh. Keaneka ragaman mata uang di Eropa kemudian dimulai ketika
Republik Florence di Italy pada tahun 1252 mencetak uangnya sendiri yang
disebut emas Florin, kemudian diikuti oleh Republik Venesia dengan uangnya yang
disebut Ducat.
Pada akhir abad ke 13 tersebut Islam mulai merambah Eropa
dengan berdirinya kekalifahan Usmaniyah dan tonggak sejarahnya tercapai pada
tahun 1453 ketika Muhammad Al Fatih menaklukkan Konstantinopel dan terjadilah
penyatuan dari seluruh kekuasan Kekhalifahan Usmaniyah.
Selama tujuh abad dari abad ke 13 sampai awal abad 20,
Dinar dan Dirham adalah mata uang yang paling luas digunakan. Penggunaan Dinar
dan Dirham meliputi seluruh wilayah kekuasaan Usmaniyah yang meliputi tiga
benua yaitu Eropa bagian selatan dan timur, Afrika bagian utara dan sebagian
Asia.
Pada puncak kejayaannya kekuasaan Usmaniyah pada abad 16
dan 17 membentang mulai dari Selat Gibraltar di bagian barat (pada tahun 1553
mencapai pantai Atlantik di Afrika Utara ) sampai sebagian kepulauan nusantara
di bagian timur, kemudian dari sebagian Austria, Slovakia dan Ukraine dibagian
utara sampai Sudan dan Yemen di bagian selatan. Apabila ditambah dengan masa
kejayaan Islam sebelumnya yaitu mulai dari awal kenabian Rasululullah SAW (610)
maka secara keseluruhan Dinar dan Dirham adalah mata uang modern yang dipakai
paling lama (14 abad) dalam sejarah manusia.
Selain emas dan perak, baik di negeri Islam maupun non
Islam juga dikenal uang logam yang dibuat dari tembaga atau perunggu. Dalam
fiqih Islam, uang emas dan perak dikenal sebagai alat tukar yang hakiki (thaman
haqiqi atau thaman khalqi) sedangkan uang dari tembaga atau perunggu dikenal
sebagai fulus dan menjadi alat tukar berdasar kesepakatan atau thaman istilahi.
Dari sisi sifatnya yang tidak memiliki nilai intrinsik sebesar nilai tukarnya,
fulus ini lebih dekat kepada sifat uang kertas yang kita kenal sampai sekarang
.
Dinar dan Dirham memang sudah ada sejak sebelum Islam
lahir, karena Dinar (Dinarium) sudah dipakai di Romawi sebelumnya dan Dirham
sudah dipakai di Persia. Kita ketahui bahwa apa-apa yang ada sebelum Islam
namun setelah turunnya Islam tidak dilarang atau bahkan juga digunakan oleh
Rasulullah SAW– maka hal itu menjadi ketetapan (Taqrir) Rasulullah SAW yang
berarti menjadi bagian dari ajaran Islam itu sendiri, Dinar dan Dirham masuk
kategori ini.
Di Indonesia di masa ini, Dinar dan Dirham hanya
diproduksi oleh Logam Mulia - PT. Aneka Tambang TBK. Saat ini Logam Mulia-lah
yang secara teknologi dan penguasaan bahan mampu memproduksi Dinar dan Dirham
dengan Kadar dan Berat sesuai dengan Standar Dinar dan Dirham di masa awal-awal
Islam.
Standar kadar dan berat inipun tidak hanya di sertifikasi
secara nasional oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN), tetapi juga oleh lembaga
sertifikasi logam mulia internasional yang sangat diakui yaitu London Bullion
Market Association(LBMA).
Seperti di awal Islam yang menekankan Dinar dan Dirham
pada berat dan kadarnya - bukan pada tulisan atau jumlah/ukuran/bentuk keping -
maka berat dan kadar emas untuk Dinar serta berat dan kadar perak untuk Dirham
produksi Logam Mulia di Indonesia saat ini memenuhi syarat untuk kita sebut
sebagai Dinar dan Dirham Islam zaman sekarang.
Seluruh Dinar dan Dirham yang diperkenalkan &
dipasarkan oleh Gerai Dinar adalah produksi langsung dari Logam Mulia - PT.
Aneka Tambang, Tbk.
Sumber:
geraidinar.com
__________________________
Penulis adalah Alumni SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta



0 comments:
Post a Comment