Menjadi Kaya dengan Syukur
Wednesday, February 20, 2013
0
comments
Kaya dan miskin tidaklah ditentukan dari seberapa banyak
harta yang kita miliki, tapi seberapa kerap kita menikmati dan mensyukuri
segala yang sudah kita miliki.
Arman nama pemuda ini. Anak tunggal pasangan yang selalu
mencoba merajut kebahagiaan.Di kampungnya, ia dikenal sebagai sosok yang sholeh
dan rajin beribadah. Baik tutur katanya, sebagaimana tingkah dan lakunya
senantiasa mempesona. Senyum dan ceria menjadi sahabat sejatinya. Kepribadian
baik ini wujud sebagai buah pendidikan keluarganya yang religius. Ayah seorang
guru agama dan bunda yang tak pernah lepas mengajarinya akan ketaatan.
Namun, senja itu, wajah Arman nampak kesal. Entah
mengapa, selepas shalat Ashar di surau kampungnya, senyum beranjak dari
bibirnya. Tak seperti biasa, ceria jauh dari dirinya. Sesekali terlihat
mengepalkan tangan kanan lantas memukul-mukul telapak tangan kirinya. Raut
mukanya jelas menunjukkan kegeraman. Pipinya tampak bergoyang-goyang menutup
gemerutuk gigi-gigi geraham yang saling bertautan. Begitupun sorot matanya
nampak tidak bersahabat.
Ia melangkahkan kaki menuju sungai di pinggiran kampung.
Disitulah selama ini ia selalu melampiaskan kekesalan hidup. Duduk di bibir
sungai sambil menatap air yang mengalir tiada henti. Sekali-sekali menarik
nafas panjang, ia mencoba menenangkan diri. Namun, gejolak hatinya seolah tak
hendak sirna.
Tiba-tiba, tanpa disadarinya, seorang lelaki tua duduk di
sampingnya dalam jarak yang cukup dekat. Lelaki tua itu memandangi Arman dengan
seluruh sikap dan perilaku yang ditunjukkannya. Beberapa waktu berselang,
hingga akhirnya ia bertanya kepada Arman. Mencoba memecah keheningan
”Nak, sedang apa kau di sini?”
”Artaghfirullah”, Arman terkejut. Ia tak menyangka ada
orang di sampingnya
Dengan terbata dalam keterkejutannya Arman berkata,
”Baa...pak siapa?, se...dang apa Bapak di sini?, Mengapa mengejutkan saya?”
”Oh.... saya penduduk kampung seberang yang kebetulan
lewat sini. Karena letih, saya pikir enak juga ngaso di sini”, katanya
”Saya sebenarnya tidak ingin mengejukkan engkau. Lagian
pula saya sudah cukup lama duduk di sini. Rupanya engkau saja yang tidak menyadarinya”,
lanjutnya
”Iya, pak. Saya mohon maaf”, Arman kini sudah bisa
menguasai diri
”Nak, aku perhatikan engkau sejak tadi. Nampak sekali
engkau sedang gundah”
”Betul, pak. Saat ini saya sedang marah”, Arman menjawab
dengan nada sedikit tinggi
”Boleh Bapak tahu, apa yang menyebabkan dirimu begitu
sangat kesal?”, lelaki itu mencoba menyelidik
”Pak, baru saja saya kehilangan sandal selepas sholat
Ashar tadi. Itulah yang membuatku marah, jengkel, dan sekaligus kesal”
“Oh… masalah sandal hilang. Kenapa sandal hilang saja
membuat dirimu begitu geram? Bukankah itu bukan masalah yang besar? Engkau bisa
menggunakan sandal yang lain lagi” seloroh lelaki tua itu.
Seolah disalahkan oleh Bapak itu, Arman kemudian mencoba
menjelaskan kembali, ”Sandal itu baru saja dibeli ayah untukku pagi tadi.
Sandal yang sudah dua tahun saya mimpi-mimpikan. Harganya Rp. 75.000,- Untuk
mendapatkan uang sebanyak itu, saya tahu, ayah harus menyisihkan pendapatannya
selama 5 bulan. Dan baru sekali dipakai ke mushola, eh... hilang. Karenanya,
wajar kalau saya merasa marah. Coba Bapak bayangkan, bagaimana bila kejadian
ini menimpa diri Bapak? Bisa-bisa kemarahan Bapak melebihi kemarahan saya saat
ini”
Lelaki tua itu tersenyum, sambil terus menatap lembut. Ia
seakan memahami gejolak jiwa Arman. Tak berapa lama kemudian, ia berkata, ”Nak,
sebenarnya engkau lebih beruntung daripada saya”
”Apa maksud Bapak”, sela Arman
”Ya... sepatutnya engkau bersyukur, meski kehilangan
sandal barumu yang mahal itu”, kembali ia menegaskan
”Lihatlah aku, nak” sedikit memerintahkan.
”Saya sudah melihat Bapak”, kata Arman
”Perhatikan aku. Pandang diriku dari ujung rambut hingga
ujung kaki”, kembali ia berkata
Arman, seolah terhipnotis, memperhatikan lelaki tua
dengan seksama. Rambut, mata, hidung, telinga, mulut, terus dan terus....
hingga ke kaki. Tiba-tiba, Arman tersentak kaget ketika matanya tidak dapat
melihat dua belah kaki sang Bapak. Ya..., ia tak berkaki. Ia beristighfar
berulang-ulang, ”Astaghfirullah al-adhiem..., Astaghfirullah al-adhiem...,
Astaghfirullah al-adhiem...”
----------------------------
Sahabatku....
Setiap kita ditakdirkan hidup menjadi orang kaya. Namun,
kerap kali perangkap pikiran menjauhkannya. Kita lebih asyik menjalani
kehidupan dengan asumsi pribadi. Meyakini langkah di atas persepsi sendiri.
Membenarkan takdir dari paradigma individualis. Sekali lagi, kerap, tanpa
melihat segala yang hadir dalam konteks yang tepat. Obyektivitas menjadi
langka. Akhirnya, kitapun tidak mampu mengukur dan menjalani hidup kita secara
berkualitas. Mental miskin menjadi pondasi mengarungi samudra hari. Mengaca
pada kisah di atas, kita lebih sibuk
Spirit kelangkaan (scarcity spirit) lebih mendominasi
spirit kelimpahruahan (abundance spirit). Merasa belum cukup atas apa yang kita
terima. Mengaku tak berpunya di antara gelimang harta berlimpah. Dan, saat
sedikit kenikmatan tercerabut, bahasa keluh dan kesah menjadi niscaya. Bahkan,
dengki, iri, dan tidak suka menjadi langgam pengiringnya. Di sinilah firman
Allah SWT menemukan konteksnya:
“Sesungguhnya manusia diciptakan dalam kondisi keluh
kesah. Apabila ia mendapatkan
Coba amati, betapa kelimpahruahan anugerah telah nyata
dalam diri. Kalaulah kita jujur, tak ada sedikitpun dari apa yang melekat di
tubuh kita luput dari anugerah. Ujung rambut hingga ujung kaki merupakan
keajaiban tiada tara. Semuanya memiliki mekanisme yang terlalu rumit untuk
dicerna pikiran dan paradigma sempit kita. Memahami diri kita saja sudah
terlalu banyak bukti untuk menyimpulkan bahwa betapa kayanya kita dibanding
dengan yang selama ini kita pikirkan.
Menjadi kaya merupakan hak setiap diri. Setiap waktu
adalah saat yang tepat menjadi orang kaya. Tak perlu menunggu lama untuknya.
Tanpa harus memiliki banyak benda yang, boleh jadi, tak akan kita miliki
sepanjang hidup. Menjadi kaya hanyalah masalah mental decision (keputusan
mental). Namun, berdampak sepanjang hayat. Itulah sebabnya, ada kalimat bijak
yang mengatakan : “Heaven & hell are states of mind, different planes of
consciousness.” Sejatinya, surga dan neraka merupakan kondisi jiwa. Diperlukan
kendaraan kesadaran yang berbeda untuk sampai kepadanya.
Menisbatkan surga sebagai kaya dan neraka sebagai miskin,
saatnya untuk mulai menikmati proses menyelami samudra hidup di dalam taman
laut nan indah. Meski, mungkin, masih banyak manusia yang merasa menyelam hidup
di dalam palung gulita. Tak semestinya kita berada pada kedalaman kelam. Untuk
itu, diperlukan kendaraan kesadaran yang tepat untuk menikmati keindahan hidup
itu. Salah menentukan kendaraan, tentu fatal akibatnya. Alih-alih kebahagiaan
dan kekayaan yang diperoleh, justru kesengsaraan dan kemiskinan yang diperoleh.
Sahabatku....
Kendaraan yang bisa mengantarkan kita kepada taman laut
yang indah itu adalah SYUKUR. Sebuah ungkapan jiwa yang syarat makna. Berdampak
besar bagi pertumbuhan dan kematangan diri. Inilah kendaraan yang selalu
digunakan si kaya dalam hidupnya. Tak peduli dia bergelimang dalam tumpukan
harta, ataupun papa. Kendaraan ini senantiasa melampaui batas materi (beyond
matters). Mampu menyelam hingga dasar samudra jiwa, sebagaimana mampu menembus
batas cakrawala indra.
Para pelaku syukur senantiasa berada pada kulminasi
kekayaan. Karena mereka tak pernah pailit. Jernih memandang sesuatu.
Para ahli mencoba memaparkan tingkat kesuksesan sesorang
dari 7 aspek diri yang terpenuhi. Ketujuh aspek ini menjadi acuan utama
kesuksesan. Faith, Freedom, Fitness,
Fortune (Finance), Family, Fame, dan .
Sahabatku....
Hidup ini hanyalah kepingan. Lantas, mengapa kita tidak
memutuskan untuk menjalani kepingan itu sebagai orang kaya dengan bersyukur?
"Barangsiapa yang tidak bersyukur atas nikmatKu,
tidak bersabar atas bala yang Kutimpakan, dan tidak ridho terhadap keputusanKu,
keluarlah dari langitKu dan carilah Tuhan selain diriKu".
Wallahu a’lam
Sumber : celestialmanagement.com
_____________________________
Celestial Management, digagas oleh A.Riawan Amin
dulu adalah Dirut Bank Muamalat, Anggota tim ahli dan
Penasihat Majelis Ekonomi & Kewirausahaan PP Muhammadiyah


0 comments:
Post a Comment