Hidup Bercahaya Dengan Keberanian
Wednesday, February 20, 2013
0
comments
Mereka
yang jatuh akan bangkit. Dan yang telah bangkit akan kembali jatuh. Semuanya
merupakan perguliran masa. Mengalami dan merasakan sakit. Diperlukan keberanian
abadi untuk menghadapinya. Keberanian yang akan membuat kita mampu tertawa dan berdiri tegak. Keberanian
yang siap menjadi matras empuk saat menyambut kejatuhan kita.
Suatu ketika seorang Indian muda mendatangi tenda
ayahnya. Di dalam sana, duduk seorang tua dengan pipa panjang yang mengepulkan
asap. Matanya terpejam, tampak sedang berkontemplasi. Hening.
"Ayah, bolehkah aku ikut berburu besok pagi?"
tanya Indian muda itu memecahkan kesunyian disana.
Mata sang Ayah membuka perlahan, sorot matanya tajam, memandang
ke arah anak paling disayanginya itu. Kepala suku itu hanya diam.
"Ya Ayah, bolehkah aku ikut berburu besok? Lihat,
aku sudah mengasah pisauku. Kini semuanya tajam dan berkilat" Tangan si
kecil merogoh sesuatu dari balik kantung kulitnya.
Sang Ayah masih diam mendengarkan.
"Aku juga sudah membuat panah-panah untuk bekalku
berburu. Ini, lihatlah Ayah, semuanya pasti tajam. Busurku pun telah
kurentangkan agar lentur. Pasti aku akan menjadi Indian pemberani yang hebat
seperti Ayah. Ijinkan aku ikut Ayah." Terdengar permintaan merengek dari
si kecil.
Suasana masih tetap senyap. Keduanya saling pandang.
Terdengar suara berat sang Ayah, "Apakah kamu sudah berani untuk berburu?
"Ya!" segera saja terdengar jawaban singkat
dari si kecil.
"Dengan pisau dan panahku, aku akan menjadi yang
paling hebat."
Sang Ayah tersenyum, "Baiklah, kamu boleh ikut
besok. Tapi ingat, kamu harus berjalan di depan pasukan kita. Mengerti?"
Sang Indian muda mengangguk.
Keesokan hari, pasukan Indian telah siap di pinggir
hutan. Kepala suku, dan Indian muda, berdiri paling depan.
"Hari ini anakku yang akan memimpin perburuan kita.
Biarkan dia berjalan di depan."
Indian muda itu tampak gagah. Ada beberapa pisau yang
terselip di pinggang. Panah dan busur tampak melintang penuh di punggungnya.
Ini adalah perburuan pertamanya.
Si kecil berteriak nyaring, "Ayo kita
berangkat"
Mereka mulai memasuki hutan. Pohon-pohon semakin rapat,
dan semak semakin meninggi. Sinar matahari pun tak leluasa menyinari lebatnya
hutan. Mulai terdengar suara-suara dari binatang yang ada disana. Indian kecil
yang tadi melangkah dengan gagah, mulai berjalan hati-hati. Parasnya cemas dan
takut. Wajahnya sesekali menengok ke belakang. Ke arah sang Ayah. Linglung, dan
ngeri. Tiba-tiba terdengar beberapa suara harimau mengaum.
"Ayah...!!" teriak si kecil.
Tangannya menutup wajah. Dan ia berusaha lari ke
belakang. Sang Ayah tersenyum melihat kelakuan anaknya. Begitupun Indian
lainnya.
"Kenapa? Kamu takut? Apakah pisau dan panahmu telah
tumpul? Mana keberanian yang kamu perlihatkan kemarin?"
Indian muda itu terdiam. "Bukankah kamu bilang,
pisau dan panahmu dapat membuatmu berani? Kenapa kamu takut sekarang? Lihat
Nak, keberanian itu bukan berasal dari apa yang kau miliki. Tapi, keberanian
itu datang dari sini, dari jiwamu, dari dalam dadamu." Tangan Kepala Suku
menunjuk ke arah dada si kecil.
"Kalau kamu masih mau jadi Indian pemberani,
teruskan langkahmu. Tapi jika di dalam dirimu masih ada jiwa penakut, ikuti
langkah kakiku."
Indian muda itu masih terdiam.
"Setajam apapun pisau dan panah yang kau punya, tak
akan membuatmu berani kalau jiwamu masih penakut. Sekuat apapun busur telah kau
rentangkan, tak akan membuatmu gagah jika jiwa pengecut lebih banyak berada di
dalam dirimu."
***
Sahabatku.....
Tak seorangpun di antara kita yang pernah bermimpi untuk
hidup di dunia. Begitupun, tidak ada di antara kita yang “dahulu” pernah
meminta kepada-Nya untuk dilahirkan di muka bumi ini. Setiap kita terlahir dari
rahim bunda sebagai bagian dari kebesaran-Nya. Tanpa, sedikitpun, campur tangan
kita secara pribadi. Itulah sebabnya, dunia menjadi ranah asing saat pertama
menghirup udaranya. Misinya, tiada lain, untuk mengukuhkan kebesaran-Nya dari
setiap jengkal langkah yang kita ayunkan.
Perjalanan hidup yang telah kita lalui semakin menguatkan
premis hidup. Sejatinya, saat ini, kita seolah hidup di dunia yang penuh dengan
gelombang pasang. Spirit negativitas telah meresap ke seluruh sendi kehidupan.
Banyak di antara kita yang seolah mengapung di atas kapal tanpa kemudi. Jiwa
yang letih terus berupaya menemukan mercusuar. Guna menjamin tak akan menabrak
pantai berbatu karang.
Saat ini kita sedang berada dalam hutan kehidupan. Gelap,
bahkan, di siang hari bolong. Rimbun dan rapatnya dahan serta dedaunan menapis
surya yang mencoba menerangi. Apalagi malam harinya. Kalaulah ada cahaya,
itulah gemerlap duniawi. Alih-alih menjadikan mata awas, sorotnya yang teramat
terang dan tajam justru semakin menyilaukan. Jadilah kegalauan akrab menemani
di tengah gemerlap yang mendekap. Tak menentu, ke mana kaki pergi melangkah.
Kesepian menjadi sahabat diri di antara keramaian yang menyergap.
Pada titik inilah ketakutan menjadi pembuka gerbang
keputusasaan. Dan, akhirnya, tetes air mata ketidakberdayaan menjadi bagian
kehidupan. Berharap darinya, semua akan sirna bagai kabut lenyap disemai
mentari. Padahal, air mata tak kan sanggup menghapus duka sebagaimana harapan
semata tak akan mengeluarkan kita dari keraguan dan kebimbangan yang menerpa.
Sungguh, di saat itu, diperlukan berkas cahaya. Ia yang menjadi penerang guna
menepis kebimbangan. Itulah keberanian. Tears will not erase your sorrow; hope
does not make you successful; courage will get you there.
Kejayaan dan kebahagiaan yang dicari memerlukan hentakan
tekad dan kaki para pemberani. Karena,
senyatanya, sebagaimana diungkapkan Julius A. Cartage, Courage is a wolf and
coward is a prey.
Sahabatku....
Keberanian adalah turbin jiwa. Ia memberikan kita
kekuatan untuk bergerak pada saat kita tidak tahu apa yang harus kita perbuat.
Buah dari gerakan itu adalah prestasi hidup yang menakjubkan. Benarlah, tak ada
jiwa yang pemberani kecuali disibukkan dengan perkara besar. Sebagaimana
tidaklah berjiwa kercil, kecuali ia akan disibukkan oleh perkara-perkara kecil.
Tak ada jiwa yang tidak disibukkan dengan kebaikan, kecuali ia pasti disibukkan
dengan keburukan. Keberanian mampu memberikan kekuatan untuk mengangkat derajat
hidup pada posisi yang semakin tinggi.
“Keberuntungan” kata sebagian orang. Keadilan Tuhan, sebagian lain mengatakan.
Yang pasti, turbin jiwa ini mampu melesatkan diri menjadi pemenang kehidupan.
Fortune favors the bold.
Keberanian adalah energi. Ia memberikan kekuatan kepada
kita di atas semua kelemahan yang kita miliki. Dan, kelemahan mendasar yang
menjadi musuh utama keberanian adalah Ketakutan. Itulah sebabnya, Aristotle
pernah mengatakan, “The conquering of fear is the beginning of wisdom.
Betullah, bahwa awal perjalanan menuju kebijaksanaan hidup adalah kemampuan
kita menguasai rasa takut. Karena tanpa keberanian hidup ia hanya kesia-siaan.
Hidup dan keberanian adalah ibarat tubuh dan bayang-bayang. Kemana pun kita pergi
dalam hidup ini, kita perlu keberanian. Dengannya, “keberuntungan” akan kerap
menghampiri.
Keberanian adalah cermin jernih. Ia menjadikan pandangan kita sangat postif
terhadap kehidupan. Apapun yang terjadi, bagi para pemberani, semuanya adalah
langkah menuju kemajuan. Bagai cermin, keberanian akan memantulkan energi
keberanian yang kita kelaurakan. Dan, tak bisa dipungkiri, energi itu akan menghasilkan perubahan energi
kehidupan baru yang akan semakin mempesona. Kalaulah pada satu titik energi itu
seolah kontra produktif, maka diperlukan lagi keberanian yang lain. Karena, ia
akan menjadi pelampung kehidupan. Menyelamatkan setiap kita dari ceruk nista
ketidakberdayaan. Ia akan memberikan pegangan yang kuat saat ada yang mencoba
menjatuhkan kita.
Adalah niscaya, setiap kita mengalami pergiliran
peristiwa. Mereka yang jatuh akan bangkit. Dan yang telah bangkit akan kembali
jatuh. Semuanya merupakan perguliran masa. Mengalami dan merasakan sakit.
Diperlukan keberanian abadi untuk menghadapinya. Keberanian yang akan membuat
kita mampu tertawa dan berdiri tegak.
Keberanian yang siap menjadi matras empuk saat menyambut kejatuhan kita.
Sahabatku.....
Keberanian adalah kekuatan besar. Ia akan menhantarkan
diri kita menuju kejayaan abadi. Karena keberanian bukanlah sekedar ungkapan di lisan. Lebih dari itu,
keberanian menjadi bahasa laku para pencari kebenaran. Keberanian yang hadir
dari kedalaman jiwa yang jernih, dada yang lapang, dan hati yang luas. Darinya
lahir gejolak api perjuangan yang tiada padam. Al-Bukhturi menyebutnya dengan :
hati yang berkilau dan semangat yang bergelora,
nafsun tadhi‘ wa himmah tatawaqqad. Keberanian seperti yang ditunjukkan
seorang Arab Badui yang mencari kejayaan dan kebahagiaan sejati dalam
perjuangan di jalan-Nya. Hak ghanimah ditepis dari kewajiban yang telah
ditunaikan. Ia hanya merindukan sebuah anak panah musuh yang menamcap di
lehernya. Itu, baginya, cukup sebagai bukti beningnya qalbu dan tak lekangnya
spirit sebagai wujud keberanian. Tidaklah mengherankan bila kemudian ia
mendapatkan surga (kejayaan dan
kebahagiaan) yang diimpikan. Tentu, setelah tubuhnya diselimuti kafan jubah
Rasulullah SAW yang mensholati dan mendo’akannya: “Ya Allah ini adalah
hamba-Mu, keluar dalam rangka berhijrah di jalan-Mu, maka dia terbunuh dalam
keadaan syahid dan aku adalah saksi atas hal itu.”
Sahabatku ......
Kini, mari berani menghadapi hidup. Mari sibak tirai masa
depan. Torehlah pesan kejayaan dengan menggemakan kesan keberanian. Jangan
biarkan jiwa ini berterusan kerdil dalam ketakutan menatap hari esok yang penuh
harapan. Marilah menjadi “indian muda” yang terus melangkah meski di kegelapan
belantara. Di tengah auman harimau.
Dengan kilau cahaya keberanian yang terpancar dari jiwa. Bukan keberanian yang
hanya berasal dari kilau dan tajamnya pisau dan anak panah.
Wallahu a’lam bish-showab
Sumber:
celestialmanagement.com


0 comments:
Post a Comment