Hidup Berkualitas dengan Cinta

Posted by KahfiMedia Wednesday, February 20, 2013 0 comments

Kelimpahan hidup tidak ditentukan oleh berapa lama kita hidup, tetapi sejauh mana kita menjalani kehidupan yang berkualitas.

Seorang ustadz kondang diundang untuk berbicara di masjid kompleks tentara. Di sana ia berjumpa dengan seorang prajurit yang tak mungkin dilupakannya, bernama Slamet.


Pertama kali berjumpa di bandara, saat Slamet menjemput sang ustadz. Saat di Bandara, Slamet sering kali menghilang, meninggalkan sang ustadz. Banyak hal yang dilakukannya. Membantu seorang wanita tua yang kopornya jatuh, mengangkat seorang anak kecil agar dapat melihat pemandangan, juga membantu orang yang tersesat dengan menunjukkan arah yang benar. Setiap kali kembali ke sisi sang ustadz,  senyum lebar selalu menghiasi wajahnya.



"Dari mana Anda belajar melakukan hal-hal seperti itu?" tanya sang ustadz mengagumi setiap apa  yang dilakukan Pak Slamet.



"Oh," kata Slamet, "saya banyak belajar ketika ditugaskan negara untuk menjadi pasukan internasional pada  perang Bosnia dahulu"



Lalu ia menuturkan kisah perjalanan tugasnya di Bosnia. Tentang tugasnya saat membersihkan ladang ranjau, bagaimana ia harus menyaksikan satu persatu temannya tewas terkena ledakan ranjau di depan matanya.


"Saya belajar untuk hidup diantara pijakan setiap langkah, "katanya.



"Saya tak pernah tahu apakah langkah berikutnya merupakan pijakan yang terakhir, sehingga saya belajar untuk melakukan segala sesuatu yang sanggup saya lakukan tatkala mengangkat dan memijakkan kaki. Setiap langkah yang saya ayunkan merupakan sebuah dunia baru, dan saya kira sejak saat itulah saya menjalani kehidupan seperti ini."



-------- ooo --------


Sahabatku....

Kualitas diri kita, sungguh, bukan ditentukan dari seberapa sering dan banyak kita berpetuah. Lebih dari itu, ditentukan dari kekerapan kita menjalani kata dalam laku. Sebagaimana kekayaan kita bukan dari apa yang kita peroleh. Namun, justru dari apa yang sudah kita berikan. Betullah apa yang disampaikan kholilullah, Muhammad saw: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya”



Tak dipungkiri, meski sesaat, rehat dan rekreasi mampu menghasilkan pertambahan kualitas hidup bagi seseorang. Namun,  yang pasti, membahagiakan orang lain dengan cinta, akan menjadi sumber kebahagiaan abadi. Sebagaimana kalimat bijak bertutur: Love makes time pass; time makes love pass.



Tahukah sahabatku, nyata di dalam otak kita, secara alamiah, terdapat hormon yang paling kuat, yaitu hormon Cinta? Bersumber dari hormon yang dikenal dengan nama Oxytocin .  Yaitu protein yang dibuat oleh bagian otak bernama hypotalamus dan juga oleh kelenjar kelamin. Hormon ini kemudian dikeluarkan dan masuk aliran darah pada kondisi-kondisi tertentu. Hormon ini kerap disebut “Hormon Cinta” karena meningkatkan rasa keterikatan serta  persatuan.



Fungsi oxytocin pertama yang diketahui adalah sewaktu seorang ibu melahirkan. Ia menstimulasi kontraksi rahim sehingga bayi terlahir.  Berikutnya, hormon ini menstimulasi tempat penampungan air susu yang disebut alveoli. Karenanya sang bunda dapat menyusui buah hatinya.



Dari eksperimen dengan binatang ditemukan bahwa oxytocin memancing kehadiran perilaku keibuan.  Tanpa hormon ini, bunda tidak akan mau mengasuh dan membina buah hatinya. Setiap kali orang tua berpelukan, bersentuhan dengan anak, antara ibu dan bayi, antara bapak dan anak, hormon ini dilepaskan dan Anda akan mengalami sensasi yang disebut dengan cinta. Kedamaian, ketentraman, kebahagiaan.



Sahabatku,

Tiada musuh yang tak dapat ditaklukkan oleh cinta. Tiada penyakit yang tak dapat disembuhkan oleh kasih sayang. Tiada permusuhan yang tak dapat dimaafkan oleh ketulusan. Karena cinta adalah nilai spiritual pertama dan utama. Kasih sayang merupakan tema terpopuler dalam peradaban manusia.  Ia menjadi energi tanpa batas. Motivator semesta. Tenaga perekat terkuat di dunia, unifying force.



Implementasi rasa cinta yang ada wujud dalam bentuk spirit melayani. Karenanya, setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi siapun . Siapun bisa menjadi orang hebat karena semua siapapun bisa melayani. Kita tidak memerlukan ijazah untuk dapat melayani. Kita tidak perlu pertimbangan rumit untuk memberi. Yang dibutuhkan hanyalah hati yang penuh cinta. Jiwa yang digerakkan oleh kasih sayang. Karena, sejatinya, cinta dan dan kasih adalah bahasa semesta yang terangkum dalam interaksi sistem pertukaran yang dinamis. Bahasa itu menghasilkan pemahaman akan gairah, progesif, proaktif, dan sikap positif dalam hidup. Karena bahasa termudah untuk memperoleh apapun yang kita harapkan, hanyalah dengan memberi bantuan dengan penuh cinta kepada orang lain untuk memperoleh apa saja yang mereka inginkan.



Sahabatku,

Kita tahu bahwa dalam torehan peradaban, bahasa melayani dengan cinta, pada saatnya, menunjukkan keberdayaannya. Lihatlah sosok Muhammad saw, Sa’id bin Jubair ra, Asma binti Abu Bakar ra, Umar al-Mukhtar, dan lainnya.  Kekuatan spiritual yang terpancar dalam bahasa cinta dan kasih sayang mereka mampu membahagiakan banyak diri. Utamanya diri sendiri.



Begitulah, sahabatku, kebahagiaan sebenarnya merupakan titik temu di antara manusia yang saling mencintai satu sama lain. Dengannya, hidup terasa indah. Cinta menjadi spirit hidup. Cinta menjelmaan sebuah keyakinan spiritual. Cinta adalah sebuah pandangan hidup dimana seseorang menerima realitas hidupnya dengan rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa,  dimana seseorang hanya melihat sisi baik orang lain sehingga pada gilirannya ia hanya akan melihat sisi baik dirinya sendiri. Cara pandang seperti ini akan menimbulkan kesyahduan, keakraban dan persahabatan yang tulus dengan sesama.



Sahabatku,

Tak terkira sudah langkah diayunkan. Namun, pernahkah kita mengambil jeda sesaat. Menelaah setiap langkah yang berlalu. Dapatkah ia menjadi inspirasi bagi kekayaan jiwa yang semakin melimpah. Bertambah cinta pada diri dan sesama. Sebagai bagian perwujudan cinta pada-Nya. Mengapa kini tidak kita tata langkah ke depan. Menjadikannya sebagai sumber mata air kasih sayang yang tiada pernah  surut dan kering. Mengobarkan percik api cinta untuk kemuliaan hidup sekarang dan akan datang. Dalam  uluran tangan yang senantiasa terbuka. Mengangkat derajat sesama. Ingatlah, selalu saja mati, hidup, dan pahala hanya terletak pada sekilas pikiran. Mari penuhi pikiran kita dengan cinta dan kasih sayang. Semoga, dengannya, hidup semakin berkualitas.

Diambil dari: M Magazine

Sumber: celestialmanagement.com

0 comments:

Post a Comment

Terbanyak Dibaca

Sosok

Risalah

Catatan

Kabar

Halaman Dilihat