Teori Pendidikan Mana Yang Terbaik
Friday, February 22, 2013
0
comments
“Sebaiknya ibu mengatakan pada anak ibu bahwa sekolah
dimana-mana sama saja. Ibu juga sebaiknya harus mendisiplinkan anak ibu bahwa
biaya sekolah itu cukup mahal. Anak-anak diajarkan juga untuk mengerti kondisi
bahwa orangtua telah menyekolahkan anak dengan susah payah, apalagi bila
sekolahnya itu adalah sekolah favorit maka sebaiknya si anak harus beradaptasi
dan membiasakan diri dengan hal-hal yang tidak nyaman untuk menjadi nyaman dan
berusaha sebaik-baiknya karena peluang sebagai anak yang diterima di sebuah
sekolah favorit sangatlah tidak mudah. Seorang anak harus mengerti apa arti
syukur. Ibu-ibu ingat, sebuah ayat yang menyatakan bahwa bila kita bersyukur
maka akan ditambah nikmatnya, bila tidak bersyukur maka siksaKu sangat pedih,
sesuai dengan firman Allah dalam Al Quran surah Ibrahim ayat 7.”
Uraian panjang lebar dari ustadz Ghufron membuat hati bu
Maya sangat tidak nyaman. Siapa sih anak di dunia ini yang mau punya suasana
sekolah tidak enak. Semua orangtua pastilah sedih bila melihat anaknya tidak
mampu beradaptasi dan tidak memiliki kawan di sekolah yang baru, walaupun
sekolah tersebut dikenal sebagai sekolah terbaik dan dikenal sebagai sekolah
favorit, jadi rebutan dan hanya anak-anak pintar saja yang diterima di sekolah
tersebut. Ditambah lagi teori sang ustadz terhadap kondisi anak bu Maya,
sungguh hal ini tidak sesuai dan tidak nyaman bagi bu Maya sendiri yang sangat
tahu anaknya seperti apa.
Ingin menyanggah sang ustadz, namun waktu bu Maya tidak
memungkinkan dan rasanya tidak sopan. Budaya di Indonesia, seorang ustadz atau
pembicara adalah benar dan selalu benar, sementara si pendengar adalah pihak
yang diberitahu, maka membuat bu Maya menjadi malas untuk menyanggah. Tujuan bu
Maya untuk ikut acara seminar pendidikan sehari ini adalah agar mendapatkan
ilmu mengenai pendidikan anak. Di sela sesi tanya jawab, bu Maya menanyakan:
bagaimana agar anaknya betah di sekolah dan mampu beradaptasi dengan baik
karena bila dikeluarkan dari sekolah rasanya sangat sayang karena sekolahnya
adalah sekolah favorit yang masuknya pun sangat susah. Namun bu Maya tidak
mendapatkan apa yang diinginkannya.
Ya, bu Maya benar dan sang ustadz pun tidak salah.
Tidak ada kata absolut atau mutlak benar untuk sebuah
kasus, apalagi kasus tersebut menimpa personal. Maka yang paling tahu apa yang
harus dilakukan adalah orangtua anak itu sendiri karena sebuah kasus yang
menimpa seorang anak itu dilihat daripada latar belakang keluarga dan
background kehidupan sebelumnya. Selain itu masa kecil si anak, perlakuan
orangtua pada anak dan banyak lagi, pola asuh orangtua yang sedikit banyak
mempengaruhi keadaan dan kehidupan serta kebiasaan si anak, juga mempengaruhi
kasus-kasus yang terjadi pada seorang anak.
Teori pendidikan tidak ada yang seratus persen benar atau
tepat, yang sebetulnya terjadi adalah cocok atau tidaknya kita dengan teori
tersebut, tepat atau tidak teori tersebut dengan kasus kita dan hal ini semua
kembali pada keluarga masing-masing. Istilahnya bagaimana mereka mendidik anak,
maka kasus-kasus dan penyelesaiannya akan tergantung pada pola didik dan
pikiran sang orangtua bukan tergantung pada pendidikan manapun. Jadi seorang
ibu atau ayah tidak perlu terlalu repot ikut seminar pendidikan setiap minggu,
ikutlah hanya sebagai sarana untuk menambah ilmu dan menambah wawasan. Namun
setiap keputusan maupun jalan pendidikan yang dibuat adalah tergantung pada
orangtua itu sendiri, tidak tergantung pada seminar maupun teori manapun dan
yang jelas solusi setiap anak dalam sebuah keluarga tentu saja berbeda walaupun
anak tersebut datang dari rahim yang sama.
Jadi kembali pada kasus diatas, bila bu Maya ataupun
banyak orangtua berharap bahwa masalah anaknya akan selesai dengan ceramah sang
ustadz atau dengan trainer darimanapun, maka untuk menjawab semua permasalahan
anak, ketahuilah bahwa kuncinya ada pada orangtua itu sendiri. Pahamilah sang
anak sebagai individu sama sepertinya ketika diri kita juga ingin dapat dipahami
dan dimengerti oleh orang lain. Carilah akar permasalahan yang membuat anak
tidak betah, baru kemudian dicari solusi yang terbaik dengan tentunya tidak
lepas memohon petunjuk dari Allah.
Sumber:
eramuslim.com


0 comments:
Post a Comment