Palestine Vs Valentine
Wednesday, February 13, 2013
0
comments
Saya tertarik menulis catatan ini setelah
melihat judul berita di sebuah situs online, Palestine Yes, Valentine No.
Setiap tanggal 14 Februari, Valentine menjadi komoditas yang layak untuk
diperdagangkan oleh para pengusaha untuk meraup keuntungan. Tentu saja dengan
memanfaatkan ketidaktahuan dan budaya hura-hura sebagian kaum muda negeri ini. Mereka
tidak sadar telah menjadi korban dari sebuah industri yang bertujuan menguras
kantong dan menggerus akidah.
Di negeri tak bertu (ju) an, sebagian kaum
remaja sibuk berbelanja coklat yang akhir-akhir ini diberi bonus kondom entah
untuk alasan apa. Dan jika dipikir tidak ada hubungannya sama sekali. Coklat berbonus
kondom itu diedarkan oleh minimarket-minimarket yang tunduk di bawah ketiak
kapitalisme. Para pemodal lokal seolah menutup mata dengan mengorbankan hati
nurani demi mendulang rupiah. Memang keberadaan xxxxxmart yang sampai ke
pelosok kampung telah lama menjadi gurita yang mematikan warung-warung kecil. Konon
banyak di antara izin usaha mereka diperoleh dengan manipulasi peraturan dan hasil
kolusi dengan para pihak yang berwenang.
Sudah banyak saksi dan bukti yang nyata-nyata
melihat kondisi ini, namun kecaman dari pihak yang berwenang seolah tak
terdengar. Mereka diam, atau dipaksa diam saya tidak tahu. Lalu sebagian remaja
kita dengan senyum-senyum membeli coklat itu entah untuk apa.
Pengaruh media massa, radio, tv, majalah dan
koran tak kalah hebohnya. Mereka menggelar berbagai acara yang katanya
menyambut momen tak jelas itu. Saya tak hendak mengulas sejarah valentine
karena jelas-jelas itu bukan dari Islam. Beberapa daerah patut mendapat
apresiasi karena telah mengeluarkan seruan atau aturan larangan merayakan valentine,
di Depok misalnya. Terlepas dari tanggapan sinis orang yang pro valentine.
Sementara di Palestine, anak-anak dan para
remaja khusyuk menghafal Al Quran. Sebagian mereka relah menjadi murabithun, penjaga jalur Gaza dari
penyusupan tentara zionis. Mereka berjaga 24 jam secara bergantian, tak
mendapat gaji dan mempertaruhkan nyawanya. Dan mereka bangga. Untuk gambaran
kondisi di Gaza Palestina, ada baiknya saya kutipkan tulisan dari Hidayatullah.com,
karena saya sendiri belum pernah ke Gaza.
Yang kontras dan menyedihkan, mana kala
banyak remaja dan anak-anak Palsetina dan Gaza membawa ketapel dan batu-batu
mempertahankan harga diri dan kedaulatan mereka hingga menjemput syahid yang
mulia, justru banyak remaja yang rusak akibat seks bebas, narkoba atau tawuran.
Sungguh memalukan jika kita membandingkan remaja di Indonesia yang aman dari
serangan senjata dengan remaja di Palestina.
Remaja kita disibukkan urusan galau karena
pacar, pelajaran atau masalah-masalah sepele
lainnya. Sedangkan remaja di Palestina harus menahan kesedihannya karena
ditinggal wafat oleh kedua orang tuannya akibat serangan Israel, atau bahkan
sedang menunggu kematian dirinya.
Seperti yang diutarakan oleh seorang remaja Muslimah berusia 14 tahun yang
bercerita kisah Anak Gaza. Remaja Muslimah itu bercerita, "Saya seorang
anak Palestina, seorang anak yatim piatu". Lalu ia memberikan kisah
seorang anak di Palestina. Dia mengatakan, "Apa kejahatanku?", Mereka
mengatakan, "Karena kamu anak Palestina, tidak ada seorang pun yang
mendengar kalian". Saya bertanya pada mereka, "tidakkah ada orang
lain di dunia ini seperti saya?" Mereka berkata, "1,5 milyar, di
antara mereka bernama A'isyah dan Ahmad". "Saya tidak percaya itu. Di
manakah mereka? Perlihatkan padaku, di mana mereka? Di mana kaum Muslim? Apakah
mereka telah meninggalakan kami dari kaum Yahudi?"
Di akhir perkataanya, remaja Muslimah calon
mujahidah tersebut berdoa kepada Allah subhanahu Wata'aala; "Ya, Allah,
aku mengimani-Mu dan aku melihat perlindung-Mu. Aku tergantung kepada-Mu dan
kepercayaan-Mu. Engkaulah pelindung dan Pemilik segala sesuatu. Engkaulah Tuhan
Semesta Alam dan Tuhanku. Ya Allah, hancurkan mereka, aku adalah anak
Palestina, seorang anak yatim.
Dari perkataan remaja Palestina tersebut
sudah dapat kita rasakan bahwa betapa menderitanya saudara dan kawan mereka di
Palestina. Dan mereka mengharapkan kepedulian kaum Muslim di Negara lain untuk
membebaskan mereka dari belenggu serangan Yahudi.
Begitulah, dua kelompok remaja dari dua
negara yang berbeda. Dengan tujuan yang berbeda, dan balasan bagi mereka pun
tentu berbeda. [eko]



0 comments:
Post a Comment