Sukses Berkat Tinggalkan Riba

Posted by KahfiMedia Monday, February 11, 2013 0 comments

Menggunakan dana bank konvensional malah bangkrut. Lantas, apa hubungan kesuksesan dengan kebiasaan sedekah ba’da subuh?

Adakah hubungan antara bisnis rumah makan dan jihad? Bila pertanyaan itu ditanyakan kepada Suripto, pemilik Rumah Makan (RM) ‘Dapur Solo,’ hubungannya jelas. Dengan ‘Dapur Solo’ ia berjihad, dan sebaliknya, karena jihadlah usaha ‘Dapur Solo’ menjadi sukses. “Ya, ini jihad ekonomi yang sesungguhnya,” kata Suripto kepada Suara Hidayatullah, akhir Juni lalu.

‘Dapur Solo’ memang cukup terkenal. Terletak di daerah yang strategis dan dekat dengan stasiun kereta api Purwosari, Solo, Jawa Tengah. Posisinya tidak jauh dari palang pintu kereta api. Bangunannya juga dibuat terbuka sehingga pembeli dapat menikmati udara dan alam sekitar.

Seperti tampak pada suatu siang. Suasana ‘Dapur Solo’ yang kental khas Jawanya itu tampak ramai. Kursi makan yang tersedia hampir penuh terisi. Beberapa orang mengantri mengambil makanan yang disediakan secara prasmanan. Di atasnya ditulis “Silakan ambil sendiri”.

Puluhan menu yang disediakan hampir semuanya khas Jawa. Ada nasi pecel, gudek, tengkleng kambing, dan masih banyak lagi.

Penyajiannya juga didesain seunik mungkin. Untuk pecel misalnya menggunakan piring yang terbuat dari anyaman bambu dengan dilapisi daun pisang. “Ini memang sengaja dibuat sedemikian rupa. Selain mengeksplorasi nuansa Jawa, juga untuk added value (tambahan nilai), biar terkesan menarik,” ujar Suripto, lelaki kelahiran Wonogiri, Jawa Tengah ini.

Memulai Bisnis
Bisnis masakan Jawa itu dibidik Suripto untuk menggaet pasar lokal yang fanatik terhadap nilai lokal Jawa. Hasilnya, bukan saja orang Jawa, tidak sedikit orang luar Jawa yang datang dan menikmati masakannya. Kata Ripto, demikian biasa dipanggil, ternyata mengemas menu khas Jawa untuk dijual juga menjanjikan.

Awalnya, Ripto mendapat pinjaman modal dari orangtuanya Rp 18 juta. Termasuk resep masakannya diberi juga dari orangtuanya yang juga pengusaha kuliner. Ia kemudian mengembangkan resepnya itu dan beberapa menu lainnya.

Untuk mempromosikan warung makannya itu, Ripto melakukan berbagai cara, di antaranya membuat brosur dan spanduk. Setelah beberapa waktu, ternyata membuahkan hasil. Para pecinta kuliner pun berdatangan. Suami Alim Indratni ini pun merasa lega, dan optimis usahanya akan maju karena melihat tanggapan masyarakat yang positif. Bahkan, kian hari tidak pernah sepi diserbu pembeli. Oleh karenanya, dalam tempo hanya tiga bulan, ia bisa mengembalikan uang pinjaman dari orangtuanya itu.

Agar para pelanggan merasa puas, dan loyal, Ripto melakukan berbagai cara, seperti memberikan hadiah berupa cinderamata yang berbentuk tanggal lahir kepada setiap pembeli. Tiap sebulan sekali ia juga mengadakan undian bagi pembeli dengan total hadiah Rp 3 juta. “Enak kan, makan sambil dapat hadiah,” seloroh mantan pegawai (PNS) Pemda Wonogiri ini.

Seiring dengan berputarnya waktu, lambat laun bisnis kuliner Ripto makin melejit. Omsetnya pun naik ratusan juta rupiah perbulan. Karena itu, ia pun mengembangkan usahanya. Kini, ia memiliki tiga jenis bisnis kuliner, yaitu Dapur Solo, Bakso Kraton, dan Bakso Kadipolo, usaha milik orangtuanya yang ia kembangkan.

Untuk Bakso Kadipolo sekarang telah memiliki enam cabang di Solo. Sedangkan Bakso Kraton baru dua cabang, di Depok dan Bogor, Jawa Barat. Ripto juga menambah menu masakanya. Kali ini ia menyediakan menu China, Chinese Moslem Food dengan koki yang ia sewa. Setidaknya, kata Suripto, ada 50 lebih jenis masakan China.

Dari usaha yang digelutinya itu, Ripto mampu meraup untung berlipat. Dari salah satu cabang saja, katanya, per tahun omsetnya bisa mencapai 1 miliar rupiah.

Untuk memperlancar usahanya, kini Ripto dibantu oleh 200 karyawannya. Inilah yang ia maksud jihad. “Setidaknya saya bisa memberikan lapangan pekerjaan kepada mereka,” katanya.

Ripto mengatakan, dalam berbisnis, kuncinya harus totalitas dan tidak boleh main-main, dan tidak boleh putus asa.

Tanpa Riba
Selain totalitas, kata Ripto, kunci sukses yang ia pegang selama ini adalah menjauhi riba. Baginya, riba adalah harga mati yang harus dijauhi. Sebab, riba hanya membuat kegagalan dalam berbisnis. “ Atau paling tidak membuat rezeki menjadi tidak berkah,” kata Suripto.

Ada pengalaman yang ia pernah rasakan. Sekitar tahun 2000, Ripto meminjam uang ke bank konvensional senilai Rp 300 juta. Lalu uang itu ia gunakan untuk menyuntik usahanya, Bakso Kadipolo di Pekalongan, Jawa Tengah. Ia berharap uang itu dapat meningkatkan omset bisnisnya. Tapi sayang, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Usahanya terganggu oleh berita borak dan formalin yang marak digunakan oleh produsen bakso di sebuah stasiun televisi swasta. Walhasil, banyak pembeli yang tidak mau membeli baksonya karena takut mengandung bahan berbahaya tersebut. Pembelinya pun turun drastis. Dalam tempo tiga bulan, usahanya pun gulung tikar. Padahal, ayah dari empat anak ini harus membayar utang berikut bunganya ke bank.

Ripto awalnya tidak menyangka musibah itu bakal terjadi. Tapi, setelah dipikir-pikir, ia pun sadar. “Mungkin ini teguran dari Allah. Usaha yang saya geluti dari uang riba tidak berkah dan tidak diridhai Allah,” kata Ripto menegaskan. Sejak saat itu, ia berjanji tidak akan memakai jasa bank konvensional lagi, tapi beralih ke bank syariah. Peralihan itu, menurut Ripto juga termasuk jihad.

Rajin Sedekah
Tidak hanya itu, sebagai wujud syukur atas limpahan rezekinya itu, menurut anggota Indonesia Islamic Bisnis Forum (IIBF) ini, ia juga selalu mengeluarkan sedekah sebanyak 20 persen dari keuntungan bisnisnya. Baginya, sedekah juga bisa melancarkan usaha. “Sedekah saya 20 persen. Kalau bisa lebih dari itu luar biasa,” katanya.

Dalam bersedekah, Ripto punya kebiasaan unik. Setiap pagi, ia membagikan 40 nasi bungkus kepada fakir miskin. “Katanya kalau sedekah habis subuh malaikat mendoakan agar rezeki kita berlipat ganda,” ujarnya.

Efek dari sedekah itu dirasakan Ripto sangat membantu roda bisnisnya. Selama menjalankan usahanya, hampir tidak ada halangan yang berarti. “Mungkin saja ini karena doa para fakir miskin itu,” tuturnya.

Adapun di mata karyawannya, Ripto adalah sosok pengusaha dan pimpinan yang baik. Ia sering membantu karyawan yang dalam kesulitan. Seperti membantu membiayai kos atau membiayai pembelian sepeda motor. “Beliau sangat baik kepada orang, apalagi kepada karyawannya,” kata Hamzah Asadullah kepada Suara Hidayatullah ketika ditemui di tempat kerjanya.

Menurut Hamzah, karyawan yang telah bekerja selama tiga tahun ini, bosnya itu sangat perhatian terhadap masalah ibadah. Dalam berbagai kesempatan, Ripto juga tak henti-hentinya mengingatkan shalat. Spiritualitas karyawan juga diperhatikan Ripto. “Sebulan sekali, karyawan harus mengikuti pengajian,” katanya.

Juga, dalam masalah barang atau bahan, Ripto sangat selektif dalam menggunakan barang. Ia lebih mendahulukan produk dalam negeri dan jelas kehalalannya. “Beliau selalu memeilih daging yang berkualitas dan halal. Hal itu yang dijaganya,” ujarnya. *Syaiful Anshor/Suara Hidayatullah, SEPTEMBER 2011


Sumber: majalah.hidayatullah.com

0 comments:

Post a Comment

Terbanyak Dibaca

Sosok

Risalah

Catatan

Kabar

Halaman Dilihat