Tiga Resep Keunggulan ...
Monday, February 18, 2013
0
comments
Oleh : Muhaimin Iqbal
Dari 100 perusahaan emerging market yang diidentifikasi
oleh perusahaan konsultan global Boston Consulting Group (BCG) sebagai
perusahaan-perusahaan yang akan ‘menantang dunia’ di tahun 2013 ini, hanya dua
yang berasal dari Indonesia. Dua perusahaan inipun bukan milik umat ini, lantas
dimana keunggulan umat ini yang secara ‘genetis’ mestinya unggul di bidang
perdagangan ?
Islam turun pertama kali ke suku Qurais yang punya
tradisi berdagang lintas negara pada jamannya, dibawa berhijrah oleh kaum
Muhajirin yang notabene juga para pedagang, disebarkan sampai Nusantara
lagi-lagi oleh para pedagang, dan ketika negeri ini terpuruk dalam penjajahan –
yang berfikir pertama kali untuk merdeka juga para pedagang, yaitu para
pedagang yang bergabung dalam Syarikat Dagang Islam (1905).
Maka bila kenyataannya kita kini tidak unggul dalam
perdagangan di jaman ini, barangkali kini waktunya kita perlu melakukan
‘genetic recovery’ untuk memperoleh kembali keunggulan itu. Tetapi dari mana
kita mulai mengidentifikasi keunggulan itu ?, dari mana lagi kalau tidak mulai
dari petunjuk dari Yang Maha Tahu.
Kita mulai dari petunjukNya dalam ayat berikut :
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah
dan mendirikan salat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami
anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu
mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan
kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya.
Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS 35 : 29-30).
Dari dua ayat di atas kita tahu bahwa yang akan diberi
keunggulan dengan perniagaan yang tidak akan merugi – dunia dan akhirat, diberi
pahala ,karunia dan ampunan adalah orang-orang yang selalu : 1) Membaca kitab,
2) Mendirikan shalat dan 3) Menafkahkan sebagian rezeki. Bisa jadi kita belum
diberi keunggulan itu sekarang karena memang belum selalu mengamalkan
ketiganya.
Membaca KitabNya
Kalau toh sudah membaca ayat-ayatNya yang tertulis dan
bahkan tidak sedikit yang mampu menghafalkan sebagian besar atau seluruh
ayat-ayatNya itu, barangkali kita belum cukup memahami petunjukNya baik yang
tersurat maupun yang tersirat, baik yang tertulis di kitabNya maupun yang
ditebarkan di bumiNya.
Kita lihat daftar 100 perusahaan versi BCG tersebut di
atas, khususnya yang saya beri tanda
dari Indonesia berikut :
Yang disebut Golden Agri Resources kalau Anda search di
internet ketemunya adalah perusahaan yang berbasis di Singapore – tetapi
pemiliknya memang dari konglomerat Indonesia dan kekayaan utamanya berasal dari
alam Indonesia. Yang kedua adalah Indofood Sukses Makmur, perusahaan yang
menguasai pasar kebutuhan pokok pangan untuk sebagian besar rakyat di negeri
ini.
Artinya apa ini ?, di sekitar kita ditaburkan seluruh
sumber daya (resources) dan sekaligus pasar yang luar biasa, tetapi karena kita
belum berhasil menggarapnya - maka orang
lainlah yang menggarapnya sehingga merekalah yang mencapai keunggulan itu.
Mendirikan Shalat
InsyaAllah kita sudah selalu melaksanakan sholat, tetapi
yang masih perlu ditingkatkan adalah bener-bener mendirikan sholat. Dengan
mendirikan sholatlah yang bisa membuat kita yakin bahwa sholat kita, ibadah
kita dan hidup dan mati kita hanya untuk beribadah kepadaNya. Dengan mendirikan
sholat pula seharusnya sholat itu mencegah kita dari perbuatan keji dan
mungkar.
Bila kekejian dan kemungkaran masih begitu luas dalam
bentuk pengelolaan sumber daya alam yang merusak, kecurangan dan ketidak adilan
di pasar, korupsi yang merampas hak rakyat, hukum Allah (syariat) yang adil
digantikan dengan hukum buatan manusia yang kelahirnya-pun penuh interest –
maka dari symptoms ini saja nampaknya kita belum bener-bener mendirikan sholat.
Menafkahkan Sebahagian Rezeki
Menafkahkan sebahagian rezeki bukan sekedar hanya
membayar zakat 2.5 % setelah itu selesai sudah kewajiban kita. Bagaimana kalau
di sekitar kita ada orang-orang miskin yang tidak bisa mencukupi kebutuhan
pokoknya dalam hal sandang, pangan dan papan ? Tugas siapa ini ?
Selain tentu saja contoh dari uswatun hasanah kita dalam
pengelolaan pasar untuk kemakmuran umat, sumber daya alam (tanah), pengelolaan
air dan bahkan energi (api), cerita para wali yang menyebarkan agama Islam di
tanah Jawa ini – juga dapat menjadi inspirasi yang baik bagaimana menafkahkan
sebahagian rezeki itu harus bisa sampai bener-bener mengatasi kebutuhan pokok
di bidang sandang, pangan dan papan.
Dengan bahasa
mereka, pemenuhan kebutuhan pokok ini diungkapkan dengan “wong kang udo
klambenono…, wong kang ngelak ombenono…wong kang kudanan payungono...” atau
“Orang yang telanjang berilah pakaian (sandang)…orang yang haus/lapar berilah
minum/makan (pangan)…orang yang tidak punya rumah berilah dia rumah (papan)”.
Ibarat orang sakit, umat ini sedang sakit – sehingga
'gen' yang seharusnya membuat kita unggul, tidak bisa menampilkan
keunggulannya. Tetapi resep untuk pengobatan sakit kita itu begitu jelas yaitu
antara lain dengan tiga hal : 1) Membaca
KitabNya, 2) Mendirikan Sholat dan 3) Menafkahkan Sebahagian Harta.
Maka bila kita terapi diri-diri kita yang lagi sakit di
jaman ini dengan resep yang dijamin kebenarannya tersebut, insyaAllah kita-pun
akan bisa kembali unggul. Amin.
Sumber:
geraidinar.com
_______________________
Muhaimin
Iqbal adalah pakar dan praktisi ekonomi Islam



0 comments:
Post a Comment