Ketika Turki ber-'Izzah : Real Madrid Bertandang Tanpa Logo Sponsor
Wednesday, April 10, 2013
0
comments
Perhatikan foto seragam Ronaldo di bawah ini. Ada sesuatu
yang hilang bukan? Yang hilang itu adalah: gambar sponsor yang menempel di dada
seragam Real Madrid: BWIN, yaitu perusahaan judi daring, minuman keras, dan
bisnis sperma (seks).
Saat bermain away melawan klub Galatasaray Turki, Real
Madrid menggunakan jersey away tanpa mencantumkan sponsor utamanya. Mengapa hal
itu bisa terjadi? Karena UU negara Turki yang melarang sponsor judi.
Pada awalnya, UU Turki tersebut banyak penentangan dan
protes dari UE. Namun secara berangsur, ketika pemerintah Turki yang dipimpin
faksi Islam Erdogan sukses membangun basis ekonomi-militer yang mapan dan
kokoh, Turki tampil meyakinkan dan berani menghadapi penentangan. FIFA-UEFA pun
tak kuasa selain mematuhi aturan tersebut. Hal yang tak akan kita temukan di
negara-negara ARAB, terlebih Indonesia.
Identitas Islam mulai dihadirkan oleh Erdogan. Bahkan ia
terang-terangan mendeklarasikan keislaman dan tawajjuh Islaminya.
***
Sahabat, perjuangan muslim dan gerakan Islam di Turki
patut dijadikan 'ibroh bagi kita di Indonesia. Islam tak bisa diperjuangkan
dengan syahwat, syubuhat, apalagi isu-isu sesat. Untuk perjuangan yang sesat
menyesatkan, hal jamak dan lumrah kita tolak. Namun perjuangan dengan dasar
syahwat, perlu kita perhatikan secara cermat. Ia adalah perjuangan ketika Islam
hanya dijadikan jualan politik tanpa pernah dijadikan sebagai tawajjuh (visi
besar) perjuangan. Islam tidak menyentuh esensi ajaran Islam (maqashid
syari'ah) yaitu: menjaga agama, harta, kehormatan, jiwa, dan entitas manusia.
Perjuangan dengan syubuhat, ketika yang muncul hanya
propaganda-propaganda ilutif yang jauh dari kenyataan dan tidak realistis
dipraktikkan. Perjuangan syubuhat diisukan dalam dakwah Wali Songo.
Cerita-cerita yang digambarkan adalah kesaktian dan karomah. Walaupun mungkin
jaman wali itu ada dan terjadi, namun sangat tidak tepat jika perjuangan Islam
saat ini menonjolkan sisi-sisi mistis belaka. Demikian juga dengan klaim-klaim
megalomania yang justru mengkerdilkan Islam, Al-Qur'an, dan Nabi Muhammad itu sendiri.
Klaim-klaim megalomania yang bombastis di tataran teori, namun miskin karya
nyata dan tidak ada bukti di tataran aksi, menjadi ilutif terkini di abad 21.
Turki di era Erdogan, terbukti ampun menyelesaikan
beragam persoalan yang saat ini mendera dunia. Mereka berjuang nyaris tanpa
hiruk pikuk spanduk-konferensi-atau kampanye-kampanye megalomania ilutif.
Mereka berbuat di tataran nyata, tidak cepat memang, namun terbukti efektif dan
nyaris tanpa pertumpahan darah.
Umat menunggu bukti. Mereka kenyang dengan janji dan tak
peduli pada ilusi
oleh : Ustadz Nandang Burhanuddin
Sumber:
islamedia



0 comments:
Post a Comment