Ketahanan Pangan A La Nabi Yusuf ‘Alaihi Salam…
Monday, May 27, 2013
0
comments
Oleh
: Muhaimin Iqbal
Ketahanan
pangan kita sungguh semakin mengkawatirkan, impor terbesar bahan pangan kita
adalah untuk komoditi pertanian yang belum bisa kita produksi sendiri. Meskipun
tonase impor gandum ‘hanya’ naik sekitar 58% selama sepuluh tahun terakhir,
nilainya dalam Dollar melonjak lebih dari 300%. Tidak cukup-kah ilmu dan
ketrampilan penduduk negeri ini untuk mengatasi masalah yang sangat fundamental
ini ? Mestinya cukup, hanya karena belum mendasarinya dengan petunjuk – maka
ilmu dan ketrampilan tersebut menjadi kurang efektif.
Kenaikan
tonase impor didorong oleh dua hal sekaligus yaitu jumlah penduduk yang
meningkat dan konsumsi per kapita yang juga meningkat. Sepuluh tahun lalu
(2002) penduduk kita baru sekitar 210 juta jiwa, dan per kapita kita waktu itu
hanya mengimpor sekitar 19 kg gandum. Penduduk kita tahun lalu sekitar 240 juta
jiwa dan per kapitanya mengimpor sekitar 26 kg gandum.
Dalam
hal nilai uang yang kita belanjakan lebih tinggi lagi lonjakannya karena
kenaikan harga gandum yang mencapai lebih dari 150% dalam 10 tahun terakhir.
Sepuluh tahun lalu harga gandum impor sekitar US$ 142/ton, sedangkan tahun 2012
lalu harga gandum impor ini mencapai US$ 365/ton.
Dari
data-data tersebut kita bisa melihat bahwa sesungguhnya ada dua faktor utama
dalam ketahanan pangan ini , yaitu masalah produksi untuk memenuhi kebutuhan
pangan dan masalah daya beli yang dipakai untuk membeli bahan-bahan pangan
tersebut.
Untuk
membangun ketahanan pangan, maka keduanya harus dipakai – yaitu menggenjot
produksi dan yang kedua mempertahankan daya beli. Petunjuk untuk kedua hal
ini-pun juga sudah sangat jelas sebenarnya, jadi bila saja petunjuk ini
bener-bener kita pakai – kita tidak akan kesulitan membangun ketahanan pangan
ini. Petunjuk tersebut ada di ayat berikut :
“Yusuf
berkata: "Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa;
maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk
kamu makan.””(QS 12:47)
Ayat
ini mengungkap dua strategi sekaligus yaitu kegiatan menanam secara serius
untuk waktu yang lama (7 tahun), dan strategi menyimpannya. Menyimpan gandum,
padi dan sejenisnya dalam ‘bulirnya’ adalah strategi untuk mempertahankan agar
padi atau gandum tersebut awet, tidak rusak dan tetap bisa menjadi benih yang
sempurna bila kelak akan ditanam kembali.
Selama
ini strategi ketahanan pangan yang ditempuh di negeri ini baru sebatas berusaha
meningkatkan produksi bahan-bahan pangan yang kita butuhkan dan pada saat
bersamaan mengurangi konsumi bahan pangan utama yang kita impor. Inipun belum
nampak hasilnya karena dari grafik di atas saja kita sudah langsung tahu
konsumsi bahan pangan impor itu meningkat tajam dan bukan sebaliknya menurun.
Seandainya
saja salah satu strategi Nabi Yusuf ‘Alaihi Salam tersebut kita pakai,
insyaAllah ketahanan pangan itu akan terbangun dengan sendirinya. Misalnya
untuk sementara bahan pangan kita yang kadung harus impor – olkelah diimpor
dahulu, tetapi jerih payah hasil produksi (kerja) kita mampu kita pertahankan
nilai daya belinya - maka sesungguhnya nilai impor itupun sudah akan terbeli
dengan lebih ringan karena semakin murah. Lihat grafik harga gandum dalam Dinar
dan nilai impor gandum dalam Dinar yang saya cantumkan di situs ini, trend-nya
menurun bukannya naik.
Ini
baru salah satu dari strategi saja yang kita pakai yaitu menyimpan hasil kerja
kita dalam ‘bulirnya’ – yaitu cara penyimpanan nilai yang tidak membuatnya
turun dalam daya beli dan kemampuan nya untuk di-‘tanam’ (re-invest) kembali –
dengan menggunakan Dinar sebagai contoh.
Tentu
penyimpan nilai itu tidak hanya emas atau Dinar, bisa dalam bentuk
komoditi-komoditi riil yang nilainya bertahan dan bahkan meningkat bila
diproduktifkan. Karena pangan adalah salah satu kebutuhan utama kita, maka
kemampuan untuk bisa memenuhi kebutuhan ini secara berkesinambungan harus
menjadi fokus di negeri ini.
Kita
juga harus bisa berfikir out of the box
bahwa bahan pangan bukan hanya beras dan gandum yang kita impor, bahan pangan
bisa juga biji-bijian, kurma, umbi-umbian dlsb yang kita tanam secara
sungguh-sungguh dalam periode waktu yang lama di negeri ini. Menanam bahan
makanan juga tidak harus di sawah atau tegalan sebagaimana yang selama ini kita
lakukan. Menanam bahan makanan bisa dalam bentuk kebun-kebun dan hutan-hutan
tanaman pangan (food forest) dalam skala besar.
Untuk
mewujudkan visi ini, kami mengundang Sarjana-Sarjana Pertanian/Science baru
khususnya dari bidang Agronomi dan Bioteknologi yang memiliki passion untuk
menghasilkan tanaman-tanam unggul, untuk bekerja dengan petunjuk Al-Qur’an,
untuk menjawab kebutuhan umat dalam hal pangan ini. Bila Anda tertarik,
silahkan mengirimkan transkrip nilai perguruan tinggi Anda dan satu karya tulis
sekitar 1000 (seribu) kata dengan judul “ Apa Yang Bisa Saya Perankan Untuk
Mewujudkan Kebun Al-Qur’an (KKA)”.
Transkrip
dan karya tulis dikirim ke email address yang ada di menu kontak situs ini atau
dikirim langsung ke saya Iqbal@geraidinar.com dengan subject “KEBUN AL-QUR’AN”.
Hanya kandidat yang transkrip nilai dan karya tulisnya meyakinkan yang akan
kami undang untuk interview.
Sumber: geraidinar.com



0 comments:
Post a Comment