Rahasia Menulis – Salim A. Fillah
Sunday, May 19, 2013
0
comments
Berikut ini adalah
kulwit #write dari Salim A. Fillah. Di dalamnya terdapat ilmu dan hikmah luar
biasa bagi kita, baik yang sudah menulis, tengah menulis, maupun ingin menulis.
Alhamdulillah, Bersama Dakwah mendapat izin dari Ust. Salim A. Fillah untuk
turut menyebarkan kulwit yang sangat bermanfaat ini. Langsung saja kita ikuti:
Mengapa Menulis
1. Menulis adalah mengikat jejak pemahaman. Akal kita
sebagai kurniaNya, begitu agung dayanya menampung sedemikian banyak data-data.
2. Tapi kita kadang kesulitan memanggil apa yang telah
tersimpan lama; ilmu dahulu itu berkeliaran dan bersembunyi di jalur rumit
otak.
3. Maka menulis adalah menyusun kata kunci tuk buka
khazanah akal; sekata tuk sealinea, sekalimat tuk se-bab, separagraf tuk
sekitab.
4. Demikianlah kita fahami kalimat indah Asy Syafi'i;
ilmu adalah binatang buruan, dan pena yang menuliskan adalah tali pengikatnya.
5. Menulis juga jalan merekam jejak pemahaman; kita lalui
usia dengan memohon ditambah ilmu dan dikaruniai pengertian; adakah kemajuan?
6. Itu bisa kita tahu jika kita rekam sang ilmu dalam
lembaran; kita bisa melihat perkembangannya hari demi hari, bulan demi bulan.
7. Jika tulisan kita 3 bulan lalu telah bisa kita
tertawai; maka terbaca adanya kemajuan. Jika masih terkagum juga; itu
menyedihkan.
8. Lebih lanjut; menulis adalah mengujikan pemahaman
kepada khalayak; yang dari berbagai sisi bisa memberi penyeksamaan dan penilaian.
9. Kita memang membaca buku, menyimak kajian, hadir dalam
seminar dan sarasehan; tapi kebenaran pemahaman kita belum tentu terjaminkan.
10. Maka menulislah; agar jutaan pembaca menjadi guru
yang meluruskan kebengkokan, mengingatkan keterluputan, membetulkan kekeliruan.
11. Penulis hakikatnya menyapa dengan ilmu; maka ia
berbalas tambahan pengertian; kian bening, kian luas, kian dalam, kian tajam.
12. Agungnya lagi; sang penulis merentangkan ilmunya
melampaui batas-batas waktu dan ruang. Ia tak dipupus usia, tak terhalang
jarak.
13. Adagium Latin itu tak terlalu salah; Verba Volant,
Scripta Manent. Yang terucap kan lenyap tak berjejak, yang tertulis mengabadi.
14. Tapi bagi kita, makna keabadian karya bukan hanya
soal masyhurnya nama; ia tentang pewarisan nilai; kemaslahatan atau kerusakan.
15. Andaikan benar bahwa Il Principe yang dipersembahkan
Niccolo Machiavelli pada Cesare de Borgia itu jadi kawan tidur para tiran...
16. ..seperti terisyu tentang Napoleon, Hitler, dan
Stalin; akankah dia bertanggungjawab atas berbagai kezhaliman nan terilham
bukunya?
17. Sebab bukan hanya pahala yang bersifat 'jariyah';
melainkan ada juga dosa yang terus mengalir. Menjadi penulis adalah pertaruhan.
18. Mungkin tak separah Il Principe; tapi tiap kata yang
mengalir dari jemari ini juga berpeluang menjadi keburukan berrantai-rantai.
19. Dan bahagialah bakda pengingat; huruf bisa menjelma
dzarrah kebajikan; percikan ilhamnya tak putus mencahaya sampai kiamat tiba.
20. Lalu terkejutlah para penulis kebenaran, kelak ketika
catatan amal diserahkan, "Ya Rabbi, bagaimana bisa pahalaku sebanyak
ini?"
21. Moga kelak dijawabNya, "Ya, amalmu sedikit,
dosamu berbukit; tapi inilah pahala tak putus dari ilham kebajikan nan kau
tebarkan."
22. Tulisan sahih dan mushlih; jadi jaring yang melintas
segala batas; menjerat pahala orang terilham tanpa mengurangi si bersangkutan.
23. Menulis juga bagian dari tugas iman; sebab makhluq
pertama ialah pena, ilmu pertama ialah bahasa, dan ayat pertama berbunyi
"Baca!"
24. Tersebut di HR Ahmad dan ditegaskan Ibn Taimiyah
dalam Fatawa, "Makhluq pertama yang diciptaNya ialah pena, lalu Dia
berfirman...
25. .."Tulislah!" Tanya Pena; "Apa yang
kutulis, Rabbi?" Kata Allah; "Tulis segala ketentuan yang Kutakdirkan
bagi semua makhluqKu."
26. Adapun ilmu yang diajarkan pada Adam dan membuatnya
unggul atas malaikat nan lalu bersujud adalah bahasa; kosa kata. (QS 2: 31)
27. Dan "Baca!"; wahyu pertama. Bangsa Arab nan
mengukur kecerdasan dari kuatnya hafalan hingga memandang rendah tulis-baca,
Sebab...
28. ..menulis -kata mereka- ialah alat bantu bagi yang
hafalannya di bawah rata-rata, tiba-tiba meloncat ke ufuk, jadi guru semesta.
29. Muhammad hadir bukan dengan mu'jizat yang
membelalakkan; dia datang dengan kata-kata yang menukik-menghunjam, disebut
'Bacaan'.
30. Maka Islam menjelma peradaban Ilmiah, dengan pena
sebagai pilarnya; wawasan tertebar mengantar kemaslahatan ke seantero bumi.
31. Semoga Allah berkahi tiap kata yang mengalir dari
ujung jemari kita; sungguh, buku dapat menggugah jiwa manusia dan mengubah
dunia.
32. Bagaimana sebuah tulisan bisa mengilhami; tak tersia,
tak jadi tragika, dan tak menjatuhkan penulisnya dalam gelimang kemalangan?
3 Kekuatan Menulis
33. Saya mencermati setidaknya ada 3 kekuatan yang harus
dimiliki seorang penulis menggugah; Daya Ketuk, Daya Isi, dan Daya Memahamkan.
Daya Ketuk
34. Daya Ketuk ini paling berat dibahas; yang mericau ini
pun masih jauh & terus belajar. Ia masalah hati; terkait niat &
keikhlasan.
35. Pertama, marilah jawab ini: 1) Mengapa saya harus
menulis? 2) Mengapa ia harus ditulis? 3) Mengapa harus saya yang menuliskannya?
36. Seberapa kuat makna jawaban kita atas ke-3 tanya ini,
menentukan seberapa besar daya tahan kita melewati aneka tantangan menulis.
37. Alasan kuat tentang diri, tema, dan akibat
dunia-akhirat jika tak ditulis; akan menggairahkan, menggerakkan, membakar,
menekunkan.
38. Keterlibatan hati dan jiwa dengan niat menyala itulah
yang mengantarkan tulisan ke hati pembaca; mengetuk, menyentuh, menggerakkan.
39. Tetapi; tak cukup hanya hati bergairah dan semangat
menyala saja jika yang kita kehendaki adalah keinsyafan suci di hati pembaca.
40. Menulis memerlukan kata yang agung dan berat itu;
IKHLAS. Kemurnian. Harap dan takut hanya padaNya. Cinta kebenaran di atas
segala.
41. Allah gambarkan keikhlasan sejati bagai susu;
terancam kotoran dan darah, tapi terupayakan; murni, bergizi, memberi tenaga
suci...
42. ...dan mudah diasup, nyaman ditelan, lancar dicerna
oleh peminum-peminumnya, menjadi daya untuk bertaat dan bertaqwa (QS 16: 66).
43. Maka menjadi penulis yang ikhlas sungguh payah dan
tak mudah, ada goda kotoran dan darah, kekayaan dan kemasyhuran, riya' dan
sum'ah.
44. Jika ia berhasil dilampaui; jadilah tulisan, ucapan
dan perbuatan sang penulis bergizi, memberi arti, mudah dicerna jadi amal suci.
45. Sebaliknya; penulis tak ikhlas itu; tulisannya bagai
susu dicampur kotoran dan darah, racun dan limbah; lalu disajikan pada pembaca.
46. Ya Rabbi; ampuni bengkoknya niat di hati, ampuni
bocornya syahwat itu dan ini, di tiap kali kami gerakkan jemari menulis dan
berbagi.
47. Sebab susu tak murni, tulisan tak ikhlas, memungkinkan
2 hal: a) pembaca muak, mual, dan muntah bahkan saat baru mengamati awalnya.
48. Atau lebih parah: b) pembaca begitu rakus melahap
tulisan kita; tapi yang tumbuh di tubuhnya justru penyakit-penyakit berbahaya.
49. Menulis berkeikhlasan, menabur benih kemurnian; agar
Allah tumbuhkan di hati pembaca pohon ketaqwaan. Itulah daya ketuk sejati.
50. Daya sentuh, daya ketuk, daya sapa di hati pembaca;
bukan didapat dari wudhu' dan shalat yang dilakukan semata niat menoreh kata..
51. ...Ia ada ketika kegiatan menghubungkan diri dengan
Dzat Maha Perkasa, semuanya, bukan rekayasa, tapi telah menyatu dengan jiwa..
52. ...lalu menulis itu sekedar satu dari berbagai
pancaran cahaya yang kemilau dari jiwanya; menggenapi semua keshalihan nan
mengemuka.
Daya Isi
54. Setelah Daya Ketuk, penulis harus ber-Daya Isi.
Mengetuk tanpa mengisi membuat pembaca ternganga, tapi lalu bingung berbuat
apa.
55. Daya Ketuk membuat pembaca terinsyaf dan tergugah;
tapi jika isi yang kemudian dilahap cacat, timpang, rusak; jadilah masalah
baru.
56. Daya Isi adalah soal ilmu. Mahfuzhat Arab itu sungguh
benar; "Fakidusy Syai', Laa Yu'thi: yang tak punya, takkan bisa
memberi."
57. Menjadi penulis adalah menempuh jalan ilmu dan
berbagi; membaca ayat-ayat tertulis; menjala hikmah-hikmah tertebar. Tanpa
henti.
58. Ia menyimak apa yang difirmankan Tuhannya, mencermati
yang memancar dari hidup RasulNya; dan membawakan makna ke alam tinggalnya.
59. Dia fahami ilmu tanpa mendikotomi; tapi tetap tahu di
mana menempatkan yang mutlak terhadap yang nisbi; mencerahkan akal dan hati.
60. Penulis sejati memiliki rujukan yang kuat, tetapi
bukan tukang kutip. Segala yang disajikan telah melalui proses internalisasi.
61. Penulis sejati kokoh berdalil bukan hanya atas yang
tampak pada teks; tapi disertai kefahaman latar belakang dan kedalaman tafsir.
62. Dengan proses internalisasi; semua data dan telaah
yang disajikan jadi matang dan lezat dikunyah; pembacanya mengasup ramuan
bergizi.
63. Sebab konon 'tak ada yang baru di bawah matahari';
tugas penulis sebenarnya memang cuma meramu hal-hal lama agar segar kembali.
64. Atau mengungkap hal-hal yang sudah ada, tapi belum
luas dikenali. Diperlukan ketekunan untuk melihat satu masalah dari banyak
sisi.
65. Atau mengingatkan kembali hal-hal yang sesungguhnya
telah luas difahami; agar jiwa-jiwa yang baik tergerak kuat untuk bertindak.
66. Maka dia suka menghubungkan titik temu aneka ilmu
dengan pemaknaan segar dan baru, dengan tetap berpegang kaidah sahih dan
tertentu.
67. Dia hubungkan makna nan kaya; fikih dan tarikh; dalil
dan kisah; teks dan konteks; fakta dan sastra; penelitian ilmiah dan sisi
insaniyah.
68. Dia menularkan jalan ilmu untuk tak henti menggali;
tulisannya tak membuat orang mengangguk berdiam diri; tapi kian haus mencari.
69. Ia bawakan pemaknaan penuh warna; beda bagi
masing-masing pembaca; beda bagi pembaca sama di saat lainnya. Membaru,
mengilhami selalu.
70. Maka karyanya melahirkan karya; syarah dan
penjelasan, catatan tepi dan catatan kaki, juga sisi lain pembahasan, dan
bahkan bantahan.
Daya Memahamkan
71. Seorang penulis menggugah memulai Daya Memahamkan-nya
dengan satu pengakuan jujur; dia bukanlah yang terpandai di antara manusia.
72. Sang penulis sejati juga memahami; banyak di antara
pembacanya yang jauh lebih berilmu dan berwawasan dibandingkan dirinya sendiri.
73. Maka dalam hati, dia mencegah munculnya rasa lebih
dibanding pembaca: "Aku tahu. Kamu tidak tahu. Maka bacalah agar
kuberitahu."
74. Setiap tulisan dan buku yang disusun dengan sikap
jiwa penulis "Aku tahu! Kamu tak tahu!" pasti berat dan membuat penat
saat dibaca.
75. Kadang senioritas atau lebih tingginya jenjang
pendidikan tak tersengaja lahirkan sikap jiwa itu. Sang penulis merasa lebih
tahu.
77. Sikap jiwa kepenulisan harus diubah; dari "Aku
tahu! Kamu tak tahu!" menjadi suatu rasa nan lebih adil, haus ilmu, dan
rendah hati.
78. Penulis sejati ukirkan semboyan, "Hanya sedikit
ini yang kutahu, kutulis ia untukmu, maka berbagilah denganku apa yang kau
tahu."
79. Penulis sejati sama sekali tak berniat mengajari. Dia
cuma berbagi; menunjukkan kebodohannya pada pembaca agar mereka mengoreksi.
80. Penulis sejati berhasrat tuk diluruskan
kebengkokannya, ditunjukkan kelirunya, diluaskan pemahamannya, dilengkapi
kekurangannya.
81. Penulis sejati jadikan dirinya seakan murid yang
mengajukan hasil karangan pada guru; berribu pembaca menjelma guru berjuta
ilmu.
82. Inilah yang jadikan tulisan akrab dan lezat disantap;
pertama-tama sebab penulisnya adil menilai pembaca, haus ilmu, dan rendah hati.
83. Pada sikap sebaliknya, kita akan menemukan tulisan
yang berribu kali membuat berkerut dahi, tapi pembacanya tak kunjung memahami.
84. Lebih parahnya; keinginan untuk tampil lebih pandai
dan tampak berilmu di mata pembaca sering membuat akal macet dan jemari
terhenti.
85. Jika lolos tertulis; ianya jadi kegenitan
intelektual; inginnya dianggap cerdas dengan banyak istilah yang justru membuat
mual.
86. Kesantunan Allah jadi pelajaran buat kita. RasulNya
menegaskan surga itu tak terbayangkan. Tapi dalam firmanNya, Dia menjelaskan.
87. Dia gambarkan surga dalam paparan yang mudah dicerna
akal manusia; taman hijau, sungai mengalir, naungan rindang, buahan dekat..
88. ..duduk bertelekan di atas dipan, dipakaikan sutra
halus & tebal, pelayan hilir mudik siap sedia, bidadari cantik bermata
jeli..
89. Allah Maha Tahu, tak bersombong dengan ilmu; Dia
kenalkan diriNya bukan sebagai Ilah awal-awal, melainkan Rabb nan lebih
dikenal.
90. Penulis sejati hayati pesan Nabi; bicaralah pada kaum
sesuai kadar pemahamannya, bicaralah dengan bahasa yang dimengerti mereka.
91. Penulis sejati mengerti; dalam keterbatasan ilmu nan
dimiliki, tugasnya menyederhanakan yang pelik, bukan merumitkan yang sahaja.
92. Itupun tidak dalam rangka mengajari; tapi berbagi.
Dia haus tuk menjala umpan balik dari pembaca; kritik, koreksi, dan tambah
data.
93. Penulis sejati juga tahu; yang paling berhak
mengamalkan isi anggitannya adalah dirinya sendiri. Daya Memahamkan berhulu di
sini.
94. Sebab seringkali kegagalan penulis memahamkan pembaca
disebabkan diapun tak memahami apa yang ditulisnya itu dalam amal nyata.
95. Begitulah Daya Memahamkan; dimulai dengan sikap jiwa
yang adil, haus ilmu, dan rendah hati terhadap pembaca kita, lalu dikuatkan..
96. ..dengan tekad bulat tuk menjadi orang pertama nan
mengamalkan tulisan, dan berbagi pada pembaca dengan hangat, akrab, penuh
cinta.
97. Kali ini, tercukup sekian ya Shalih(in+at) bincang
#Write. Maafkan tak melangkah ke hal teknis, sebab banyak nan lebih ahli
tentangnya:)
98. Kita lalu tahu; menulis bukanlah profesi tunggal dan
mandiri. Ia lekat pada kesejatian hidup sang mukmin; tebar cahaya pada dunia.
99. Maka menulis hanya salah satu konsekuensi sekaligus
sarana bagi si mukmin tuk menguatkan iman, 'amal shalih, dan saling menasehati.
100. Jika ada 'amal lain yang lebih kuat dampaknya dalam
ketiga perkara itu; maka kita tak boleh ragu: tinggalkan menulis menujunya.
Demikian kulwit #write dari Salim A. Fillah.
"Rahasia Menulis – Salim A. Fillah" hanyalah judul yang diberikan
Bersama Dakwah untuk memudahkan pembaca, mohon maaf jika malah mengurangi daya
ketuk, daya isi, dan daya memahamkan kulwit ini. Kepada Ustadz Salim A. Fillah
kami sampaikan jazaakallah khairan katsir, jazaakallah ahsana jazaa atas izin
dan ilmunya. []
Sumber:
bersamadakwah.com



0 comments:
Post a Comment