Abad 21, 1 Milyar orang Meninggal Akibat Epidemik Tembakau
Monday, June 24, 2013
0
comments
Pada
abad 21, diperkirakan sekitar satu milyar orang meninggal akibat epidemik
tembakau, termasuk adanya penurunan kualitas hidup pada usia tua jika telah
terbiasa merokok pada usia muda. Oleh karenanya, menghentikan kebiasaan merokok
merupakan alternatif terbaik dan termurah dalam mencegah munculnya berbagai
penyakit yang disebabkan oleh penggunaan tembakau.
Demikian
disampaikan dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan – Universitas
Muhammadiyah Yogyakarta (FKIK –UMY), dr. Agus Widyatmoko, Sp.PD., dalam
training konseling berhenti merokok, Selasa (29/3) siang di Asri Medical Center
(AMC). Training yang diadakan hingga Rabu (30/3) ini diselenggarakan oleh FKIK
– UMY dan bekerjasama dengan AMC yang telah membuka klinik berhenti merokok
untuk memberikan konsultasi bagi perokok aktif yang berkeinginan untuk berhenti
merokok.
Menurutnya,
terjadi penurunan kualitas hidup secara tajam di usia tua ketika perokok telah
memulai aktivitas merokoknya pada usia muda. Pada abad 20, epidemik tembakau
telah membunuh 100 juta manusia di seluruh dunia dan diperkirakan akan mencapai
satu milyar orang di abad 21. Penggunaan tembakau, dikatakan Agus, juga menjadi
faktor risiko bagi beberapa penyebab kematian di dunia, diantaranya penyakit
jantung dan stroke. “Namun penggunaan tembakau merupakan penyebab kematian di
dunia yang sebenarnya dapat dicegah,” terang Agus.
Ia
mengungkapkan satu orang meninggal setiap enam detik akibat tembakau. Tembakau
juga tercatat telah membunuh sepertiga hingga setengah dari jumlah total
perokok yang menghisap rokok dalam kurun waktu 15 tahun. “Hari ini, tembakau
juga menyebabkan satu dari sepuluh kematian pada orang dewasa di dunia. Jika
kondisi ini dibiarkan, maka diperkirakan sekitar 500 juta orang yang hidup hari
ini akan meninggal akibat tembakau,” urai Agus.
Lebih
lanjut, Agus menjelaskan jika angka kejadian orang yang meninggal akibat
serangan jantung di Indonesia saat ini cenderung meningkat dan hal ini justru
terbalik dengan keadaan di Amerika Serikat yang mengalami penurunan. “Di Negara
maju, kesadaran orang akan pentingnya menjauhi rokok telah meningkat, termasuk
dengan proteksi yang dilakukan pemerintahnya sehingga kematian akibat
penggunaan tembakau di Negara maju, misalnya Amerika Serikat, telah menurun
hingga 9%. Namun, di Negara berkembang, kematian akibat tembakau justru
meningkat hingga dua kali lipat, dari 3,4 juta jiwa orang menjadi 6,8 juta
orang,” paparnya.
Data
yang dirilis World Health Organization (WHO) pada 2008 juga menunjukkan jika
penyakit kardiovaskuler atau jantung telah menyebabkan 26,8 juta pria dan 31,5
juta perempuan meninggal dunia. “Di Negara berkembang, penyakit jantung iskemik
menjadi penyebab kematian kedua dengan 9,4%, sementara penyakit serebrovaskuler
atau lebih dikenal dengan stroke menempati peringkat kelima penyebab kematian
seseorang dengan 5,65%,” jelas Agus. Sementara itu, perokok pasif mengalami
risiko penyakit jantung koroner sebanyak 25% – 30% jika terpapar dengan asap
rokok.
Dengan
melihat kenyataan tersebut, Agus mengatakan tanpa kesadaran dari masyarakat
untuk berkomitmen dalam menjauhkan diri dari tembakau, maka aktivitas merokok
akan menyumbangkan 10% dari kematian global. “Oleh karenanya, menghentikan
merokok merupakan alternatif terbaik dan termurah daripada mengobati penyakit
yang disebabkan oleh tembakau,” tandas Agus. (umy.ac.id)
Sumber: muhammadiyah.or.id



0 comments:
Post a Comment