Kurikulum Pendidikan
Sunday, July 14, 2013
0
comments
Oleh: Dr. Hamid Fahmy Zarkasy (Direktur
INSIST)
di kutip dari Jurnal Islamia - Harian
Repubika 16 Mei 2013
Ada sedikitnya tiga elemen penting dalam
pengajaran, Pertama ialah materi, kedua guru dan ketiga adalah metode. Jika di
perluas ketiga hal ini menjadi kurikulum, tenaga pendidik dan sistem
pendidikan.
Untuk makna yang sempit kurikulum
diartikan sekumpulan pelajaran yang dikaji pelajar di sekolah atau universitas.
Dalam arti luas kurikulum adalah seperangkat pengalaman belajar yang tersusun
rapi untu tujan tertentu (G Terry Page dkk, International Dictionary of
Education 1979)
Tapi kurikulum adalah hasil kreasi
manusia yang dapat direka-reka sesuai kebutuhan pengguna. Pada zaman Orde Baru,
kurikulum nasional pernah diorientasi pada pelajaran sejarah dan ideologi. Pada
waktu lain, diarahkan untuk pengembangan matematika, fisika, dan biologi. Dan
yang pasti, orientasinya adalah melulu kognitif atau keilmuan bahkan praktis.
Semua itu karena perkembangan sains dan teknologi di dunia yang begitu.
Masalahnya menjadi kompleks karena
ternyata degradasi moral anak bangsa juga berjalan secepat teknologi. Sementara
rasa kebangsaan, kegotongroyongan, jiwa musyawarah mufakat, rasa keadilan
sosial, dan kemanusiaan bangsa ini sudah begitu rapuh. Ternyata, matematika tidak
mengajarkan kejujuran, biologi tidak meningkatkan moral, fisika tidak
menanamkan keimanan.
Memang kini telah tersusun berbagai model
kurikulum, misalnya kurikulum berbasis kompetensi, berbasis teknologi, berbasis
pemecahan masalah, berbasis lingkungan, berbasis karakter bangsa, berbasis
masyarakat dan sebagainya. Namun, efektifitas kurikulum nasional belum juga
dianggap mampu menyelesaikan persoalan kebangsaan tersebut.
Belum selesai masalah kualitas kurikulum,
kita menghadapi masalah metode. Sebab, metode ternyata lebih penting dari pada
kurikulum. Kurikulum yang canggih tanpa metode yang tepat tidak akan efektif.
Namun, metode pun juga masih tergantung pada pelaksanaanya, yaitu guru. Sebab,
secanggih apapun suatu metode jika disampaikan oleh guru yang tidak bersemangat
dan kreatif juga akan sia-sia.
Prinsip keterkaitan seperti ini sudah
lama dipraktikan di Pondok Modern Gontor. Disini terdapat prinsip begini;
Metode lebih penting dari materi
Guru lebin penting dari metode
Jiwa guru lebih penting dari guru
Jadi, selain materi dan guru, jiwa guru
sangat berperan dalam keberhasilan pengajaran. Karena jiwa guru sangat berperan
dalam keberhasilan pengajaran. Karena, dengan jiwa keikhlasan dan
pengabdiannya, guru akan dapat mewarnai murid. Bahkan menurut Sir Pency Nun,
pofesor pendidikan University of London (1870-1994) baik buruknya suatu
pendidikan tergantung pada kebaikan, kebijakan dan kecerdasan pendidik.
Tapi, itu semua adalah kurikulum dalam
arti satuan pelajaran. Padahal pendidikan tidak hanya terbatas pada pelajaran
dan pengajaran. Sebab, nama menteri kita adalah menteri pendidikan nasional
bukan menteri pengajaran nasional. Di dalam kurikulum pendidikan semua aspek
dalam sekolah, baik ekstra maupun intrakurikuler diintegrasikan dengan nilai
pelajaran. Disini, Ujian Nasional tidak menjadi penentu segala galanya. Siswa
teladan dan berprestasi diukur dari nilai kumulatif ekstra dan intrakulikuler
di sekolah.
Mengapa demikian? John Dewy, pakar
pendidikan Amerika, menjawab sekolah adalah tempat dimana proses pewarisan
'kepercayaan dan idealisme', etos kerja, cara berfikir dan merasa, serta
khazanah ilmu pengetahuan dari generasi ke generasi. Dan yang terpenting dalam
proses itu adalah pewarisan kepercayaan dan idealisme. Tapi, bagi Al-Ghazali
pendidikan adalah tempat dimana prose mencari ilmu dan mempraktikannya serta
menggunakannya untuk menyelesaikan masalah hidup. Lebih fokus lagi, bagi Iqbalm
oendidikan adalah tempat membangun jiwa manusia dan pembangunnya adalah
pendidika. Itulah peran penting lembaga pendidikan.
Jika beban lembaga pendidikan begitu
kompleks maka kurikulum pengajaran tidak mencukupi. Diperlukan kurikulu
oendidikan yang berperan menanamkan ilmu pengetahuan sekaligus membentuk
karakter, moral, dan akhlak peserta didik. Elemen-elemen dalam Tripusat
pendidikan, sekolah-rumah tangga-masyarakat dapat dihadirkan ke sekolah.
Sebagai melting pot, lembaga pendidikan dapat berubah menjadi lembaga
kehidupan. Namun, disitu semua didisain untuk tujuan mendidik. Jika itu terjadi
maka sekolah dapat menjadi apa yang diidamkan oleh al-Ghazali, yaitu tempat
mencetak insan kamil atau manusia seutuhnya.
Sumber: http://saifuddinzuhrie.blogspot.com



0 comments:
Post a Comment