MIUMI Hadir untuk Merperkuat Ulama

Posted by KahfiMedia Monday, February 11, 2013 0 comments

Di ujung Februari lalu (28/2/2012), di Hotel Grand Sahid Jakarta dideklarasikan Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI). Majelis ini memilih Dr Hamid Fahmi Zarkasyi sebagai ketua dan Bachtiar Nasir, Lc sebagai sekretaris jenderal. Bachtiar Nasir mengatakan, tujuan berdirinya MIUMI untuk mempersatukan umat, bukan menciptakan kelompok baru.

Kehadirannya diharap bisa ikut menyelesaikan permasalahan keumatan dan mencari jalan keluar dengan cara ilmiah tanpa meninggalkan basis-basis disiplin ilmu, akidah dan syariat Islam. Yang terpenting, menurut Bachtiar, kehadiran organisasi ini akan melakukan revitalisasi terhadap lembaga keulamaan yang sudah ada.

Acara deklarasi ini dihadiri banyak tokoh, di antaranya Dr Adian Husaini (intelektual muda), Taufiq Ismail (Budayawan), Dr Din Syamsuddin (Ketua Umum Muhammadiyah), Ustadz Fadzlan Garamatan (dai asal Papua), dan Bambang Widjajanto (Komisi Pemberantasan Korupsi), Prof Yunahar Ilyas, MA (Muhammadiyah), KH Cholil Ridwan (MUI), Mahfudz MD (Mahkamah Konstitusi), Dr Fuad Bawazier, dan banyak tokoh lainnya.

Din Syamsuddin mengatakan, kehadiran MIUMI harus memberi solusi bagi berbagai persoalan bangsa, di antaranya meluasnya lingkaran imoralitas. Kata Din, MIUMI tidak perlu dianggap sebagai saingan bagi organisasi lainnya, seperti Majelis Ulama Indonesia.

“Justru MUI harus bersyukur karena perjuangannya dilanjutkan oleh kader-kader muda yang tergabung dalam MIUMI,” kata Din yang juga Wakil Ketua Umum MUI Pusat ini.

Untuk berbincang lebih dalam tentang MIUMI, reporter Suara Hidayatullah, Muhammad Thufail al-Ghifari, mewawancarai Sekjen MIUMI, Bachtiar Nasir, Lc. Berikut petikannya.

Bisa dijelaskan MIUMI ke depan seperti apa?
Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia adalah sekumpulan para ulama muda. Walaupun kata muda ini sebenarnya tidak mewakili usia, tetapi lebih kepada semangatnya. Kami yang dari berbagai elemen ormas dan masyarakat ingin bersatu dengan kapasitas keilmuan, yang insya Allah memadai di bidangnya masing-masing. Kita ingin berbuat yang terbaik demi Islam dan umat Islam di Indonesia.

Kami menggunakan kata intelektual dan ulama tujuannya untuk mendukung MUI dan ormas-ormas Islam. Semboyan kami adalah “Indonesia Yang Lebih Beradab”.

Apa bentuk organisasinya?
Kami bukan yayasan dan bukan ormas. Sementara ini kita masih rembukan apa bentuknya. Tapi, untuk sementara, kami tidak menggunakan badan usaha atau badan formal khusus.

Tujuan dan kegiatannya apa saja?
Ada tiga kegiatan utama. Pertama, riset atau penelitian. Terutama melahirkan fatwa untuk persoalan umat. Karena basis kita adalah ilmu pengetahuan, gerakan kita lebih pada membangun umat dengan ilmu pengetahuan. Kedua, mensosialisasikan hasil riset. Dan, ketiga, menegakkan fatwa yang sudah kita riset dan mensosialisasikannya.

Anggota MIUMI siapa saja?
Beberapa doktor baik dari lulusan pendidikan Barat maupun dari Timur. Tetapi, pendekatannya lebih pada keulamaannya, atau pada ilmu syariah. Anggota MIUMI dari berbagai ormas, ada yang dari Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Persatuan Islam, Matlaul Anwar, dan lain-lain.

Sistem keanggotaannya bagaimana?
Rekrutmen keanggotaan lebih berdasarkan rekomendasi dari orang-orang yang kita kenal keilmuannya. Kita juga melihat track record (rekam jejak, red) dari gerakan orang yang bersangkutan di lapangan.

Apa kriteria untuk menjadi anggota MIUMI?
Keilmuan dan keulamaan. Sebenarnya, tekanannya lebih pada kepemimpinan informal oleh ulama. Jadi, salah satu target kita adalah menjadikan fatwa ulama sebagai penerang umat untuk melangkah di dalam hidupnya, baik di tingkat individu, masyarakat, maupun bernegara. Jadi, pernyataan bahwa fatwa ulama itu tidak mengikat kepada umat sebenarnya menyesatkan. Hal itu juga menyebabkan hilangnya struktur sosial Islam di masyarakat, di mana ulama sudah tidak lagi dijadikan panutan oleh umat.

Apakah ada batasan usianya?
Tidak ada. Yang penting punya semangat untuk bergabung.

Apakah MIUMI juga akan menggandeng para ilmuwan dari luar disiplin ilmu syar’i, seperti dari kalangan ahli teknologi dan ilmu alam, misalnya?
Ya, kita juga akan mengajak para saintis untuk bergabung di MIUMI. Mereka akan mendukung kita di komisi-komisi di organisasi ini.

Bagaimana sinergi MIUMI dengan MUI?
Kita akan silaturahim ke MUI. Bahkan, sebagian besar dari anggota MIUMI juga anggota MUI. Kita mendukung MUI dan akan bekerja secara sinergi. Mungkin, MUI juga bisa menganggap kita sebagai lembaga sayapnya. Walaupun dalam berbagai hal, kita akan lebih detil lagi.

Apa gerakan MIUMI dalam waktu dekat ini?
Yang terdekat, setelah kami merapikan internal, kami berencana mengadakan rapat kerja memperbaiki organisasi dan keanggotaan. Setelah itu, kami akan mendukung fatwa MUI Propinsi Jawa Timur tentang kesesatan Syiah. Lalu, kita juga akan menyikapi fatwa MUI yang berkaitan dengan putusan Mahkamah Konstitusi RI mengenai anak zina.

Langkah apa yang akan ditempuh MIUMI untuk menghadapi gerakan liberalisme di Indonesia?
MIUMI berusaha menjadi perekat umat. Liberalisme adalah kesesatan yang harus kita perangi dan kita lawan. Untuk umat, saran kami adalah berpeganglah kepada fatwa ulama yang takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena para ulama adalah
waratsatul anbiya’ (pewaris para Nabi, red).

Setelah Nabi SAW tidak ada, Nabi SAW mewariskan kepada ulama. Yakni para ulama yang takut kepada Allah dengan ilmunya. Jangan gampang mengabaikan fatwa ulama dengan mengatakan bahwa fatwa itu tidak mengikat. Pernyataan seperti itulah yang menghancurkan fungsi sosial umat Islam di Indonesia. *Muhammad Thufail Al-Ghifari/Suara Hidayatullah APRIL 2012

Sumber: majalah.hidayatullah.com

0 comments:

Post a Comment

Terbanyak Dibaca

Sosok

Risalah

Catatan

Kabar

Halaman Dilihat